Bismillah
Terimakasih untuk keberanian ini Allah, untuk setiap kata yang keluar berbaris rapi menyusun kalimat. Allah terimakasih, sungguh barangkali setiap kejadian ini terulang, maka saat itu juga kebaranian ku di uji berkali-kali lipat. Nyaliku ditantang dengan hebatnya. Setiap kali kejadian ini terulang, maka naluriku sebagai seorang wanita, sebagai seorang guru dan terlebih sebagai seorang anak terasa terpanggil. Tapi panggilannya begitu perih, pilu. Allah terimakasih untuk kesekian kalinya untuk kekuatan rahang ini membuka lalu meluncurkan suara. Daaaaannn... semuanya langsung runtuh, pilunya pun berterbangan.
Kenapa begitu sulitnya hati ini untuk mengatakan "siap". Karna bak rekaman layar lebar berkeliaran di benakku. Persis tidak ada episode yang tertinggal. Persis detik demi detik terekam, bahkan diujungnya ia memberi kesimpulan.
Bagaimana mungkin aku memutuskan untuk segera "siap", jika bayangan itu ada lebih besar dari diriku sendiri. Bagaimana mungkin dengan mudahnya aku mengambil "langkah", jika ada beban yang bergelantungan di benak, hati hingga kakiku sendiri.
Kembali, izinkan hamba merasakan sungkuran sujud yang Engkau gerakan..
Aku rindu kembali bersimpuh padaMu dalam ketawakalan. Aku rinduuuu Allah mengadu, bercerita, menangis pada sepertiga malamMu. Allah izinkan hamba untuk setiap malam tidak melewatkan itu. Izinkan Allah :'(
'Biarkan pena-pena ini menggambarkan keMahatakjubanNYA, agar tak hanya menjadi goresan tak bermakna'
Thursday, September 25, 2014
Saturday, September 20, 2014
Ingin kutuliskan semua bahasa yang pernah hinggap dihati. Lalu kuterjemahkan menjadi prosa yang indah, meski yang kutulis adalah sayat-sayat pilu yang memilukan.
Aku pun juga ingin menggambarkan khayalan yang pernah menguntil di benak. Lalu kudeskripsikan menjadi lantunan tak bermelodi, meski yang ada hanyalah sembilu luka dan kecewa.
TERJEBAK dalam ruang yang berkali-kali sama, yang membuat berkali-kali termangu. Kenapa masih saja berkutat pada apa yang terjebak? Oh Allah, segumpal hati ini terbuat dari apa? hingga ia sulit dikuasi, atau sekedar diajak berkompromi bersama-sama untuk tetap tenang, tenang dan tenang.
Aku pun juga ingin menggambarkan khayalan yang pernah menguntil di benak. Lalu kudeskripsikan menjadi lantunan tak bermelodi, meski yang ada hanyalah sembilu luka dan kecewa.
TERJEBAK dalam ruang yang berkali-kali sama, yang membuat berkali-kali termangu. Kenapa masih saja berkutat pada apa yang terjebak? Oh Allah, segumpal hati ini terbuat dari apa? hingga ia sulit dikuasi, atau sekedar diajak berkompromi bersama-sama untuk tetap tenang, tenang dan tenang.
Thursday, September 18, 2014
Ingat sekali,saat tumit-tumit kita saling merapat pada shaf yg lurus
maka saat itu juga seakan energi kebaikan membuyarkan kelesuan dan keletihan yg dirasa,
saat itu pun aku merasa yakin jika kalian akan memberikan pundak tanpa perlu diminta.
Aku juga masih ingat dgn jelas saat kami saling menyimak lalu meraba-raba tajwid yang masih keliru,
saat itu aku yakin jika telinga kalian akan selalu sedia tanpa harus diminta.
Sampai jumpa kembali my NADI,selamat mengabdi ditanah kelahiran,
aku pun sama merasakan ini, setahun yg lalu :(
Monday, September 8, 2014
Aku hanya berharap ini bukanlah bagian dari ketidak syukuranku atas karunia, rezeki, nikmat dan anugrah dari Allah. Bukan juga bentuk keserakahanku untuk ingin merasakan apa saja yang bisa aku rasakan. Tapi, entahlah aku seakan tidak bisa melanjutkan kalimat setelah tapi. Aku juga masih bisu untuk menulis deretan alasannya. Apalagi untuk mendefinisikan maksud yang ada dihati. Dan kututup paragraf ini bahwa I'm not really treasonous, I just follow my heart.
Saturday, September 6, 2014
Engkau akan diuji dengan apa yang kau cintai. Jika saja yang diuji adalah apa yang engkau tidak sukai, maka tentu itu hal yang mudah untuk melewatinya.
Tapi, Allah yang mengetahui diri kita melebihi diri kita sendiri. Takaran yang tepat dan sesuai menjadi hal pasti bagi Allah untuk memberinya pada kita. Hanya saja, kita yang memang harus terus belajar memahamkannya, mengkonversinya menjadi keihklasan bertahan dan berjuang.
Penggalan kalimat dari ust.Salim A Fillah, "Jadikan cintaku padaMu Ya Allah, berhenti dititik ketaatan. Meloncati rasa suka dan tak suka, karena aku tahu menaatiMu dalam hal yang tak kusukai adalah kepayahan, perjuangan dan gemilang pahala. Karena seringkali ketidaktahuanku, hanyalah bagian dari ketidaktahuanku".
Meminta kita untuk menyadari kecintaan pada Allah adalah bagian tertinggi dari kecintaan kita pada apapun, dan kebencian kita pada apapun.
Kita mencintai, maka Allah akan memaksa kita untuk membuktikannya dengan caraNya
Subscribe to:
Comments (Atom)