Thursday, September 25, 2014

Bismillah

Terimakasih untuk keberanian ini Allah, untuk setiap kata yang keluar berbaris rapi menyusun kalimat. Allah terimakasih, sungguh barangkali setiap kejadian ini terulang, maka saat itu juga kebaranian ku di uji berkali-kali lipat. Nyaliku ditantang dengan hebatnya. Setiap kali kejadian ini terulang, maka naluriku sebagai seorang wanita, sebagai seorang guru dan terlebih sebagai seorang anak terasa terpanggil. Tapi panggilannya begitu perih, pilu. Allah terimakasih untuk kesekian kalinya untuk kekuatan rahang ini membuka lalu meluncurkan suara. Daaaaannn... semuanya langsung runtuh, pilunya pun berterbangan.

Kenapa begitu sulitnya hati ini untuk mengatakan "siap". Karna bak rekaman layar lebar berkeliaran di benakku. Persis tidak ada episode yang tertinggal. Persis detik demi detik terekam, bahkan diujungnya ia memberi kesimpulan.


Bagaimana mungkin aku memutuskan untuk segera "siap", jika bayangan itu ada lebih besar dari diriku sendiri. Bagaimana mungkin dengan mudahnya aku mengambil "langkah", jika ada beban yang bergelantungan di benak, hati hingga kakiku sendiri.


Kembali, izinkan hamba merasakan sungkuran sujud yang Engkau gerakan..
Aku rindu kembali bersimpuh padaMu dalam ketawakalan. Aku rinduuuu Allah mengadu, bercerita, menangis pada sepertiga malamMu. Allah izinkan hamba untuk setiap malam tidak melewatkan itu. Izinkan Allah :'(

Saturday, September 20, 2014

Ingin kutuliskan semua bahasa yang pernah hinggap dihati. Lalu kuterjemahkan menjadi prosa yang indah, meski yang kutulis adalah sayat-sayat pilu yang memilukan.
Aku pun juga ingin menggambarkan khayalan yang pernah menguntil di benak. Lalu kudeskripsikan menjadi lantunan tak bermelodi, meski yang ada hanyalah sembilu luka dan kecewa.

TERJEBAK dalam ruang yang berkali-kali sama, yang membuat berkali-kali termangu. Kenapa masih saja berkutat pada apa yang terjebak? Oh Allah, segumpal hati ini terbuat dari apa? hingga ia sulit dikuasi, atau sekedar diajak berkompromi bersama-sama untuk tetap tenang, tenang dan tenang.

Thursday, September 18, 2014


Ingat sekali,saat tumit-tumit kita saling merapat pada shaf yg lurus 
maka saat itu juga seakan energi kebaikan membuyarkan kelesuan dan keletihan yg dirasa, 
saat itu pun aku merasa yakin jika kalian akan memberikan pundak tanpa perlu diminta. 
Aku juga masih ingat dgn jelas saat kami saling menyimak lalu meraba-raba tajwid yang masih keliru,
saat itu aku yakin jika telinga kalian akan selalu sedia tanpa harus diminta. 
Sampai jumpa kembali my NADI,selamat mengabdi ditanah kelahiran,
aku pun sama merasakan ini, setahun yg lalu :(

Monday, September 8, 2014

Jika sudah siap,

maka akan ada seribu keberanian untuk memulai

dan akan ada beribu jalan untuk mendekat

Aku hanya berharap ini bukanlah bagian dari ketidak syukuranku atas karunia, rezeki, nikmat dan anugrah dari Allah. Bukan juga bentuk keserakahanku untuk ingin merasakan apa saja yang bisa aku rasakan. Tapi, entahlah aku seakan tidak bisa melanjutkan kalimat setelah tapi. Aku juga masih bisu untuk menulis deretan alasannya. Apalagi untuk mendefinisikan maksud yang ada dihati. Dan kututup paragraf ini bahwa I'm not really treasonous, I just follow my heart.

Saturday, September 6, 2014

Engkau akan diuji dengan apa yang kau cintai. Jika saja yang diuji adalah apa yang engkau tidak sukai, maka tentu itu hal yang mudah untuk melewatinya. 

Tapi, Allah yang mengetahui diri kita melebihi diri kita sendiri. Takaran yang tepat dan sesuai menjadi hal pasti bagi Allah untuk memberinya pada kita. Hanya saja, kita yang memang harus terus belajar memahamkannya, mengkonversinya menjadi keihklasan bertahan dan berjuang.

Penggalan kalimat dari ust.Salim A Fillah, "Jadikan cintaku padaMu Ya Allah, berhenti dititik ketaatan. Meloncati rasa suka dan tak suka, karena aku tahu menaatiMu dalam hal yang tak kusukai adalah kepayahan, perjuangan dan gemilang pahala. Karena seringkali ketidaktahuanku, hanyalah bagian dari ketidaktahuanku". 

Meminta kita untuk menyadari kecintaan pada Allah adalah bagian tertinggi dari kecintaan kita pada apapun, dan kebencian kita pada apapun.

Kita mencintai, maka Allah akan memaksa kita untuk membuktikannya dengan caraNya

Sunday, August 31, 2014

diawal saat menjadi bagian Al-Azhar


Kemenangan sebenarnya

Hari itu, kami bersiap2 menuju sekolah dr rumah masing2 dgn perasaan berbeda. Beberapa kali sering telat masuk sekolah, namun kali ini kami bertekad masuk tepat waktu bahkan jauh sebelum jarum jam menunjukkan pukul 06.30. Iya lagi2 karena hari itu memang berbeda. Kulangkah kan kaki menuju lobi kemudian segera kuletakkan jempol tanganku di alat "pendeteksi kehadiran". Kesana kemari mata ku mencari beberapa sosok yg kuharap mereka telah hadir lebih dahulu. Dan ternyata benar, papan dan tas yg terlihat begitu berat berada tepat di bahu mereka seakan menyiratkan kalo mereka memang telah siap.

Dikantor pun terlihat sudah tergeletak tas yg kukenal didpn meja saya (dan mejanya juga). Ku segera menyapa guru yg sudah hadir lebih dahulu, lalu kutanyakan sosok yg mempunyai tas tersebut. "Miss tria mana yah?",tanyaku pada beberapa guru. "Mungkin ada dibawah", jawab salah satu guru. Karena tak kunjung terlihat, kuputuskan utk menunaikan dhuha sambil menunggu kehadirannya.

Selang beberapa Lama, Miss Tria muncul dan diikuti oleh beberapa siswa. Suasana kantor pun mendadak ramai penuh dengan ucapan semangat dan do'a. Kembali hatiku bergumam dengan kalimat yg semalam sempat kukirim kan di group bbm "team matematika", 'optimis menjulang do'a melangit ikhtiar membumi'. Semoga kalimat ini mampu terinternalisasikan dalam jiwa mereka dan juga tentu kami sebagai gurunya.

Setelah beberapa saat siswa-siswi bersalaman dengan guru, kami segera bertolak menuju tkp.


Selama perjalanan menuju IKIP ogan, anak2 menyelipkan candaan yg membuat geli. Beberapa kali Miss tria kembali mengingatkan sistematika lccm grup dan perorangan.

Sesampainya disana, segera kami meregistrasi ulang sekaligus mendapatkan 'nametag' pada setiap masing2 lomba. Keadaan diruangan masih sangat sepi, hanya segelintir orang yg telah duduk  rapi dikursi yg telah disediakan. Momen tersebut membuat kenarsisan kami keluar (terutama Miss Tria karena ini ide beliau). Miss Tria kemudian memanggil salah satu panitia utk memoto kami dibawah spanduk lomba tersebut. Semua siswa pun segera menyambutnya dgn ceria, namun hanya seorang siswa yg enggan bergabung. Siapa dia? Iya benar dia adalah sang master kita fahmi. Namun, karena paksaan dari saya dan Miss tria akhirnya fahmi mau diajak berfoto meski dengan berat. Saat kedua kalinya ingin berfoto, fahmi meminta dirinya ditempatkan dipaling ujung. It's ok, yg penting mau diajak foto. Oh no, saat detik2 sang fotografer memencet "capture", fahmi segera berlari menjauh. Ini ni kalau anak udah kelewat pintar,hehe


Sudah 20 menit kami menunggu, namun sepertinya acara juga belum ada tanda2 akan dimulai. Tiba2 dalam kesibukan kami dengan dunia masing2, seorang putri cantik dhila memecahkan suasana. "Miss, miss sholat dhuha yuuk", ajaknya pada saya dan Miss Tria. "Oh ayo nak belum mulai juga acaranya", jawab Miss Tria segera. "yuuk silahkan, Miss udah dikantor". Jawabku juga.

Ya Rabb, detik itu juga naluri ku membatin, "ini lah nak yg sebenar dan sejatinya kemenangan". Andai ada alat penglihat hati, maka bisa dilihat begitu lebarnya hati Miss tersenyum. :)

Monday, June 9, 2014

hidup adalah pilihan...

saat kita tahu ada yang belum benar
atau ada beberapa keliru
mungkin juga karena keberlebih-lebihan
atau khilafan dan keterbatasan manusia

kita punya pilihan..

tetap berada disana dan memperbaiknya
atau lebih memilih keluar dan meninggalkannya
atau juga keluar lalu memeranginya



apapaun pilihannya semua punya konsekuensi
karena memang HIDUP ADALAH PILIHAN

Saturday, May 10, 2014

Aku jatuh cinta pada diamnya
Pada pandangan yang tertunduk

Berulang kali aku jatuh cinta pada senyum yang malu
Juga pada taatnya padaMu

Kembali, aku jatuh cinta pada lembut sikapnya
Pun tenangnya berpikir

Duuh, aku masih jatuh cinta pada caranya berkata
Pada cakapnya dan kerasnya bekerja

Oooh, benarkah aku jatuh cinta?


Atau 

aku hanya pengagum harapan

Sunday, April 20, 2014

Jujur, saya benar-benar merasa jauh dari kata produktif. Buktinya saja tulisan di blog saya sangat jauh dari banyak. Saya seolah tersandra keadaan. Terjerat oleh kebekuan, lalu bersandar pada ranting yang rapuh. Seakan-akan saya belum paham dengan style kehidupan saya. Maunya apa? inginnya kemana? akhirnya pada apa? Saat ini, saya hanya mampu menghelaa nafaaas panjang. 

Berharap 2,3,4 atau beberapa tahun kedepan saya sudah bisa tersenyum membaca tulisan ini kembali

Wednesday, March 12, 2014

Skripsi Mengharu Biru

Bismillah

Semester 7 yang kulalui begitu berbeda, bukan seperti 6 semester sebelumnya,yang berkutat dengan buku Purcell dan sejenis. Tapi semester ini adalah momen pembuktian sekaligus gerbang pembelajaran untuk menjadi pendidik yang ’baik'. Kutempuh semester 7 ini dengan mengambil PPL, Seminar Matematika, Seminar Pra Skripsi.
Saya sangat berkaca dari kakak tingkat sebelumnya bahwa ketika PPL, SPS pasti ga kepegang, salah satu kalimat yang sempat kuingat. Tapi itu benar-benar menjadi tantangan buat ku untuk tidak mau mengulanginya lagi.

Bermula dengan kedatangan kami ke SMK7 (yang kalau diceritakan kembali bagaimana perjuangan kami –aku,nadya,rahmat- untuk mendapat sekolah ini mungkin akan menjadi satu bab cerita tersendiri). Kami mulai mengkonfirmasi, menanyakan kontrak kami ketika PPL disini. Al- hasil, saya tertegun mendengar penjelasan salah satu guru pamong bilang kalau kami harus menyelesaikan PPL hingga diakhir semester dan juga kami harus setiap hari masuk sekolah. Heemmhhuuft, helaan nafas panjang tanpa sadar terlontar.
Saya tahu persis bahwa semua penuh resiko, apalagi kami merasa sangat ‘berhutang budi’ dengan sekolah ini, karena telah menerima kami sebagai mahasiswa PPL. Kedua guru pamong ku memberikan pengertian dan pencerdasaan bahwa peraturan itu bukan ingin memberatkan kami, tapi murni untuk memberikan kami pembelajaran dan pengalaman yang berarti. Kami (dengan perasaan yang awalnya keberatan) menerima dengan memberikan yang terbaik apa yang bisa kami lakukan. Singkat cerita, PPL disini memberikan kami ‘keluarga’ baru.

Kembali dengan status saya, yang bukan hanya sebagai seorang guru PPL tapi seorang mahasiswa yang masih mempunyai tanggung jawab dengan 2 matakuliah lain, yaitu SEMAT dan SPS. Mungkin untuk SEMAT, saya masih bisa mencuri-curi waktu mengerjakan di saat saya dan teman kelmpok saya (nadya, rahmat) sedang ada waktu kosong –tidak mengajar- bersamaan.
Alhamdulillah berkat kegigihan dan kecerdasan saudara-saudara saya (nadya, rahmat), kami bisa menyelesaikannya dengan tepat waktu dan mendapat nilai A. J
Bagaimana ceritanya dengan SPS?? Saya sudah mencoba untuk tidak meninggalkan amanah saya yang satu ini. Saya juga sudah mulai mencari-cari judul yang ingin saya usung. Sekitar bulan November saya sudah mencoba untuk mengumpulkan outline. Hasilnya, outline saya belum diterima dan tugas PPL yang saat itu juga sudah sangat dekat dengan Ujian PPL memaksa saya untuk mengalihkan perhatian dan waktu saya menyelesaikan ini terlebih dahulu.

Setelah pembagian rapot di sekolah dan itu artinya saya sudah tidak lagi mempunyai tanggung jawab di sekolah sebagai guru PPL. Maka pada saat itu, saya langsung memfokuskan diri saya untuk memperbaiki dan menyelesaikan outline saya yang sempat tertunda.

Semester 8 sudah didepan mata….

Sekitar 5 kali revisi outline yang pada saat itu saya memutuskan untuk mengambil PTK, alhmadulillah tanggal 7 maret 2013 outline saya di acc. Kembali cerita sebelum saya mendaptkan acc tersebut. Saya sungguh berdo’a kepada Allah bukan agar outline saya diterima, tapi saya berdo’a ‘jangan Engkau selipkan keputusaasaan sedikitpun pada hati hamba’. Karena saya yakin, Allah pasti memberikan keputusan yang terbaik, tercanggih dan teristimewa. Hanya saja kadang saya yang membuat kegagalan itu terjadi, karena saya putus asa terlebih dahulu, padahal keberhasilan tinggal beberapa langkah lagi.

Tanggal 13 Maret 2013 surat untuk dosen pembimbing keluar, meskipun sebelumnya saya sudah terlebih dahulu tahu siapa dosen pembimbing (DP) saya. Ini benar- benar nikmat yang luar biasa karena saya mendaptkan DP yang luarbiasa (subhanallah walhamdulillah). Beliau adalah Dr. Anton Noornia, M.Pd dan Tutuk Narfanti, S.Pd., M.Ed. Tanggal tersebut bertepatan dengan hari Jum’at (hari yang penuh berkah), hari tersebut kebutulan Pak Anton mengajar dan saya segera memutuskan untuk menunggu beliau selesai ngajar dan langsung konsul sekaligus menyerahkan surat dari jurusan.

Tanggapan pertama kali beliau (dan insya allah seterusnya) sangat welcome, ramah, friendly. Saya benar-benar merasa sedang dibimbing layaknya seorang anak dengan bapaknya J. Saya diberikan PR untuk diserahka ke beliau pekan depan. Denga semangat yang membara saya segera dan secepat mungkin mencari – cari bahan untuk menjawab PR yang beliau kasih.



Hari Rabu (20032013) saya kembali menemui beliau untuk konsul. Saya semakin merasa pertolongan Allah begitu dekat, sangat dekat bahkan terhadap hamba-hambaNya. Beliau sangat membimbing saya (meskipun saya saat itu belum bisa menjawab PR dengan sempurna). Bahkan yang membuat saya terharu dan semangat semakin menggebu-gebu adalah beliau memberikan saya timeline agar saya bisa lulus semester ini (098) juga. Allahuakbar!!!!
 

Deguaarrrr!!! Serasa geledek disamping telinga, saat keesokan harinya saya kembali menemui beliau, dan beliau ternyata baru sadar (baca:tahu/ngeh) kalo penelitian yang saya usung adalah PTK. Seketika beliau menjelaskan dengan panjang lebar yang kalau di intisarikan adalah beliau meminta saya untuk tidak melakukan PTK. Allahu!!!

Beliau meminta saya kembali lagi esok hari yaitu jum’at untuk mendengarkan renungan dan pertimbangan panjang saya semaleman, apakah penelitian yang saya ambil? Saat itu saya mengutarakan rencana saya untuk ke UPI, dan beliau segera memberikan masukan kembali, “okey kalau gtu kamu cari referensi sebanyak mungkin, lalu ketemu saya lagi hari sabtu dan itu harus sudah ada keputusan”. Angguk saya spontan. J
Jum’at, 22 maret 2013 dengan perjalanan kereta pertama ke bandung pukul 05.55 saya dan uyung (teman seperjuang) melangkahkan kaki menuju UPI. Baca sana-baca sini. Copy sana copy sini. Kami pulang dengan keberangkatan kereta terakhir ke Jakarta pukul 07.50. kami membawa sejuta perasaan dan pikiran, serta kami membawa mata dan badan yang sudah sangat lelah. Kami tiba dijakarta pukul 23.00.

Hari sabtu tanggal 23032013, saya segera kekampus untuk menepati janji saya bertemu dengan pak anton. Sekitar pukul 10.30 tiba dikampus saya melihat jurusan sangat sepi dan senyap, lalu saya berinisiatif untuk menelusuri kelas-kelas. Berharap pak anton sedang mengajar. Dan ternyata tepat! Pak Anton sedang mengajar mahasiswa S2. Saya menunggu dan mondar –mandir kesana-kemari, berharap bapaknya segera selesai mengajar. Tapi ternyata, sudah pukul 12.00 dan adzan zuhur berkumandang. Maka seketika itu juga saya memutuskan untuk ke MUA sholat dzuhur terlebih dahulu.

Sholat dzuhur telah kutunaikan, dan sedikit ditutup dengan tilawah saya ke jurusan kembali. Apa??yang kudapat adalah ruang jurusan tetap sepi dan senyap. Saya berlari-lari kecil menuju ruangan tempat beliau mengajar dan yang terlihat bukan lagi Pak Anton yang mengajar tapi sudah berganti dosen. Saya sedikit panik, dan berlari kembali kejurusan, dan  tetap saja yang terlihat hanya sepi dan senyap tanpa seorang pun.
Akhirnya saya berinisiatif untuk sms Pak Anton (dan ini untuk pertama kalinya saya sms beliau). Beliau menjawab sms saya, beliau mengatakan kalau beliau sudah pulang. Masya Allah.

Sia-sia kah penantian ku?? Tidak, Insya Allah saya yakin tidak sia-sia meskipun saat itu tangisan pun tak bisa dielakkan.

Kembali aku sms beliau untuk menanyakan jadi bagaimana pak?dan memberikan tahu keputusan saya mengambil kuantitatif. SMS balasan beliau seperti ini “Ok buat 3 bab proposal penyesuaian. Dan selasa ketemu saya lg….” Allahuakbar!!!
Tangisan ku semakin mengencang, entahlah kenapa tangisan ini mengalir. Untuk apa? Untuk kekecewakankah? Untuk terharu kah? Atau rasa syukur kah? Yang saya tahu bahwa Allah benar-benar menujukkan keMahaBesaran-Nya
Apa yang terjadi selanjutnya???saya juga sedang menunggu..
Semoga Allah takdirkan dengan takdir yang terbaik, sebaik-baik takdir..aamiin
Saya menulis tulisan ini, hari sabtu (23032013) malam. Semoga tulisan ini bisa semakin meyakinkan saya bahwa Allah sebaik-baik pemberi pertolongan dan Allah lah yang mengatur sekecil apapun kejadian yang terjadi.
Tunggu cerita menakjubkan selanjutnya??
########
Yeeeaaahh..
Hari ini saya sudah berada ditanggal 24 november 2013. Sudah berpa banyak kejadian, tangis, bahagia yang telah berlalu sejak tulisan pertama mengisi kolom “Microsoft word” ini.
Daaan taauu, saya sekarang sudah melekatkan gelar S.Pd di nama saya saat ini. Demi Allah rasa-rasanya tidak ada kesombongan yang tersisa dihati ini karena gelar yang sudah saya raih. Kenapa??? Karena MASYALLAH, semua yang sudah saya lewati sungguh karena atas berkat Rahmaan dan Rahiim Allah. Meskipun saya memang belum memegang toga, tapi ini sudah menjadi bagian nikmat Allah yang luar biasa. Eeiitts, bingung kenapa saya belum wisuda??? Penasaran??? Baiklah kalo tidak penasaran, saya tetap akan menuliskannya. J
Aapaa yang telah terjadi pada diri saya setelah saya memutuskan untuk mengambil kuanti??
Saya langsung mengerjakan dengan sungguh-sungguh, meskipun saya harus memutar kembali paradigma otak saya yang awalnya kuali menjadi kuanti. It’s oke…
Waktu saya hanya 2 hari sebelum saya harus ketemu pak anton hr selasa seperti yang telah dijanjikan beliau sebelumnya. Saya berinisiatif untuk bertemu hari senin dengan guru kelas yang menjadi tempat penelitian saya nanti. Saya menceritakan bahwa saya akan mengganti jenis penelitian saya, yang awalanya PTK (kuali) menjadi kuanti, dan otomatis saya juga harus menggunakan dua kelas yang awalanya hanya satu kelas. Alhamdulillah, guru nya mempersilhkan saja tapi diakhir pembicaraan kami, guru tersebut menanyakan kenapa saya tiba-tiba mengganti jenis penelitian saya. Dan yaaah, saya menceritakan semua yang pernah di bilang oleh pak anton, mulai dari resiko yang baik maupun yang buruknya. Apa respon dari gurunya?? Eeaaa..gurunya bersedia membantu saya untuk PTK dengan resiko yang sudah saya jelaskan sebelumnya. Seketika itu saya langsung menguji kesungguhan guru tersebut dengan meminta kesediaan waktunya untuk datang menemui pak anton keesokan harinya. Wuaaw tanpa diduga gurunya meng’oke’kan.
Seketika pulang dari sekolah saya langsung sms pak anton dan menceritakn kejadian yang tadi dan gurunya bersedia untuk ketemu pak anton. Dan pak anton menjawab dengan sangat bijak, “Kalau begitu boleh, besok bisa ketemu saya”
-karena gigi sudah nyut-nyut, mata sudah sayup saya cukupkan sampai sini dulu untuk malam ini-

Kembali pertanyaanya apa yang akan terjadi besok???
Singkat cerita deeeh, udah 4 halaman,hehe
Tapii seruuu bgt setiap kejadian yang terjadi, sayang kalo ga diceritain.
Keesokan harinya terjadilah pertemuan antara saya, guru dan dosen pembimbing (pak anton) di sebuah ruangan yang selalu menjadi tempat ketua program studi matematika S2 UNJ “nongkrong”.
Pak anton dengan sabar menjelasan secara garis besar tetapi detail mengenai proses pembuatan penelitian tindakan kelas (PTK). Guru tersebut juga mendengarkan, dan tak lupa saya sudah menaruh hape saya –menghidupkan recorder- dimeja sejak pembicaraan awal dengan pak anton. Setelah pembicara selesai saya mengantar guru tersebut sambil beberapa kali membicarakan strategi yang akan dilakukan kedepan. Dengan begitu banyak dukungan,saya sangat bersemangat untuk menyelesaikn bab 3 saya dengan rapi. Namun, saya harus melaporkan outline saya terlebih dahulu ke DP2. Saya segera menemui DP2 untuk mengadakan janji konsul. Beberapa hari kemudian saya konsul dengan DP2, beberapa penulisan masih salah akan tetapi judul yang saya usung tidak dipermasalahkan.

MaaysaaAllah saya semakin bersemangat untuk menyelesaikan proposal agar bisa di konsul kan kembali ke DP1 dan 2. Sekitar satu pekan saya kembali menemui DP1 untuk melihat hasil tulisan proposal saya yang sudah lengkap. Alhasil masih banyak penulisan yang salah dan beberapa point penting yang harus ditambah. Saya malah semakin semangat untuk memperbaikinya. Kebetulan sekali, beberapa hari kemudian saya merampungkan revisi dan kembali ingin bertemu DP1, namun apa daya ternyata DP1 tidak ada dijurusan, tapiii saya menemukan sosok DP2 saya. Agak sedikit ragu karena asebelumnya belum janjian, saya memberanikan diri bertemu DP2 saya. Apa yang dikatakan DP2 saya saat saya menyerahkan kembali proposal ke beliau?? Beliau mengatakan, “ko konsul lagi, kan kemaren sudah? Udah ke DP1 belum” saya kemudian dengan senyam senyum membalas, “ kan pekan kemaren bu, sekarang saya mau konsul untuk pekan ini, dengan DP1 saya sudah lebih dari 4 kali”. DP2 saya dengan senyam senyum mengambil proposal saya dan membacanya. Beberapa menit kemudian, saya menunggu respon dari beliau. Beliau mengatakan, “okei, ini sudah bisa diseminarkan”. Seketika saya mengucapkan syukur dan berterimakasih dengan DP2 saya yang cantiik J . sebelum meninggalkan ruangan beliau mengatakan, “nanti saya ttd lembar pengesahan kalo DP1 kamu udah ttd”

Allahu, saya merasa Allah sedang membuka jalan kemudahan bagi saya. Setiap kejadian yang terhambat atau yang Allah lancarkan dengan nasehat ust.YM,” Allah dulu, Allah lagi, Allah terus”
Keesokan harinya saya bertemu dan DP1 dan menyampaikan pesan dari DP2 saya kalo beliau sudah memberikan acc untuk maju seminar. Allahuakbar!!! Kemudian DP1 menanyakan lembar pengesahan dan seketika beliau membubuhkan ttdnya dan sedikit revisi diproposal saya. Kemudian saya keluar ruangan dan mendapati DP2 saya baru datang. Selang beberapa menit saya memberanikan diri untuk meminta acc dilembar pengesahan. Kembali akhir yang menyenangkan dan menakjubkan J

Singkat cerita, akhirnya setelah seminar proposal saya langsung ngebut merapikan insstrumen yang akan digunakan saat penelitian yang Alhamdulillah sekali judul seminar saya diterima tanpa perubahan yang banyak. Kurang lebih satu bulan saya melakukan penelitian disekolah. Inilah hal yang sangat ribet dan tak terbayang sebelumnya, maklum pengalaman pertama.

Didetik-detik terakhir penyelesaian penelitian, saya merasa benar-benar penat yang akhirnya saya meniggalkan sedikit skripsi saya untuk fokus sebentar mengurus toep yang ini juga menjadi salah satu syarat agar lulus.

Dan kembali bersujud syukur toep saya lulus meski hanya sedikit di atas standar. Lalu saya kembali mengerjakan kembali. Dan tiba-tiba saat itu saya menjadi orang kost’an yang tiap hari hanya ada dikost dan jarang sekali keluar rumah. Padahal biasanya kost’an hanya menjadi tempat buat tidur.
Semuanya memang tidak ada yang sia-sia, saya yakin itu. Pengumuman dijurusan mengenai pendaftaran skripsi sudah ditempel. Hanya sekitar 1 bulan lagi pendaftaran akan ditutup. Saya hanya fokus memikirkan bagaiman menyelsaikan skripsi dengan secepat-cepatnya dan yang pasti berkualitas. Namun, Allah benar-benar punya takdir berbeda, disaat h-1 ditutupnya pendaftaran skripsi saya belum di acc dan kedua dp saya kebetulan tidak ada ditempat. Dengan sangat berat hati saya mengikhlaskan semester ini. Hingga akhirnya satu hari setelah penutupan sidang, saya bertemu dgn dp2. Apa yg terjadi, dengan sedikit curhat saya mengatakan merelakan untuk melapaskan semester ini. Allahu, tidak lama kemudian beliau menyerahkan hasil revisi skripsi saya yang saya kasih sebelumnya dengan memberi note “sudah siap sidang!!”. Saya benar girang karena beliau baru pertama kali melihat hasil tulisan sya dari bab1 sampai bab5 dan ternyata langsung di acc. Kemudian keesokan hari nya saya bertemu dengan DP 1 saya kan beliau menanyakan pada kajur bahwa saya masih bisa ikut sidang atau tidak. Namun, jawaban dari kajur “sudah tidak bisa”. Seketika badan saya lemas, namun disisi lain saya terharu. Bahwa sebegitu pedulinya DP1 saya hingga bersediakan menanyakan hal tersebut.

DP1 saya kembali memotivasi saya untuk menyelesaikan skripsi ini dalam kurun waktu 1 minggu kemudian nanti saya langsung acc. Dengan begitu, saya masih diberi kemudahan untuk membayar uang spp semester depan. Akhirnya tanggal 31 Juli 2013 saya mendaftar sidang skripsi. Saya benar-benar tidak ingin mengingat itu sebagai suatu momen yang menyedihkan.
Beberapa bulan kemudian, jadwal sidang saya baru keluar. Tepat di tanggal 1 Oktober 2013 saya sidang skripsi. Alhamdulillah semua lancar dan saya sangat senang sekaligus bangga DP 1 dan DP 2 saya sangat kooperatif dalam menjawab beberapa pertanyaan dari dosen penguji.
Itulah akhir dari perjuangan menyelesaikan skripsi saya meskipun masih ada sedikit revisi dan perubahan, dan sedikit ada perdebatan yang membuat saya harus kembali curhat dengan DP1 saya. Aduh bapak saya benar-benar berterimakasih karena tidak bosan-bosan nya mendengar keluh dan kesah saya..hehe
Alhamdulillah tanggal 6 Maret 2014 saya WISUDA bersama dengan 6 orang teman sekelas saya. Barakallah semuaa, semoga ilmu kita bisa bermanfaat bagi agama, negeri, orang tua dan tentu bagi diri sendiri.aamiin

SALAM SUKSES!!!!