Bismillahiwalhamdulillah
“Demi
masa. Sungguh manusia berada dalam kerugian. Kecuali, orang-orang yang saling
menasehati dalam kebenaran, dan saling menasehati dalam kesabaran” (Terjemah
Q.S Al-Ashr)
Tentu saja seharusnya dan
sewajarnya sebagai hamba yang dhoif harus terus diingatkan, dinasehati, ditegur
bahkan digiring untuk senantiasa “mengeja” Dzat-Nya. Mengapa saya menggunakan
kata “mengeja” untuk mewakili maksudnya? Tidak lain karena makna mengeja dalam
kamus saya adalah “proses belajar yang terus menerus”, tanpa henti, tanpa ada
batas, dan tidak akan sampai pada sebuah kesempurnaan. Saya tahu betul, hari
demi hari adalah proses pembelajaran yang kadang tak luput dari futurnya iman, lemahnya
semangat dan luputnya dari mengingat Dzat Yang Maha Mengetahui.
Saya pun sangat menyadari bahwa
saya bukan Malaikat yang suci dari dosa, bukan pula Rasul yang langsung
ditarbiyah oleh Allah lewat malaikat Jibril, yang jika melakukan kesalahan seketika
Allah tegur melalui ayat-ayat cinta-NYA. Terus apa yang bisa menjaga diri ini
dan kita semua agar bisa mengenal-NYA dengan intensif? Secara umum, Tarbiyah menjadi salah satu solusi
dalam menjaga hati dan sikap tetap pada rel kebenaran. Banyak metode yang
digunakan dalam proses Tarbiyah, dan pembinaan dalam mentoring atau halaqoh
menjadi metode yang konkrit dalam proses tarbiyah.
Saya merasa, sungguh Hidayah yang
Allah berikan bukan begitu saja datang, tapi tak bisa dipungkiri ada media
untuk bisa menghantarkan nikmat islam itu menelusuk hingga ke hati saya. Dan
saya harus berkata bahwa “lingkaran kecil” di sekolah menengah atas itu menjadi
pintu pembuka hidayah Allah yang Alhamdulillah saat ini masih terus saya
rasakan nikmatnya. Jujur, ingatan itu membuat tangan saya bergetar
menuliskannya. Alasan utama mengapa hari ini saya merasa bahwa membina dan
dibina alat yang paling jitu dalam menangkap sinyal hidayah yang Allah sebar
dimuka bumi ini.
Itulah yang membuat saya ingin
sekali orang disekitar saya, yang saya mencintai mereka karena Allah dapat
merasakan hal yang sama dengan apa yang saya rasakan dahulu. Perasaan itu yang
membuat saya ingin terus belajar dan ingin mengajarkan apa-apa yang masih sangat
sedikit saya tahu. Namun
disamping itu, ada warning yang tegas yang Allah sampaikan dalam Al-Qur’an,
”Wahai
orang-orang yang beriman, kenapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu
kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang
tidak kamu kerjakan.”( Terjemahan QS.
Ash Shaff : 2 dan 3)
Oleh
itulah, tugas membina menjadi hal yang tidak sembarang dilakukan. Harus ada
perasaan bertanggung jawab terhadap apa yang telah diucapkan.
Dan terakhir adalah harapan yang
disampaikan lewat do’a, Semoga ALLAH mengistiqomahkan diri ini dan orang-orang
yang saya cintai karena Allah untuk tidak lelah mengejar Ridho dan Cinta NYA,
meski harus jatuh berkali-kali, meski harus meneteskan air mata, keringat
bahkan darah sekali pun. Aamiin J
No comments:
Post a Comment