HUBUNGAN FILSAFAT
DENGAN MATEMATIKA PADA ZAMAN KUNO
Dua bidang pengetahuan rasional
yang tak diragukan lagi berhubungan erat sejak dulu sampai sekarang ialah
filsafat dan matematik. Tiga ahli matematik Charles Brumfiel, Robert Eicholz,
dan Merrill Shanks yang bekerjasama mengarang sebuah buku pelajaran geometri
menulis pernyataan yang berikut:
Pada awal peradaban Yunani, fisafat
adalah penelaahan dari semua cabang pengetahuan. Ketika pengetahuan ilmiah
manusia bertambah selama berabad-abad, cabang-cabang ilmu tertentu tumbuh
sampai mereka memisahkan diri dari filsafat dan menjadi bidang-bidang studi
yang terpisah. Kita tidak lagi menganggap ilmu kedokteran , ilmu hukum,
matematik, fisika, kimia, biologi, ilmu ekonomi, dan lain-lainnya sebagai
bagian-bagian dari filsafat, meskipun filsafat merupakan ayah dari semua ilmu
ini.
Thales dari Miletus oleh para
penulis sejarah filsafast diakui sebagai Ayah dari Filsafat (The Father of Philosopy). Dalam sejarah
matematik Thale diakui sebagai pencipta dari geometri abstrak yang pertama
berdasarkan rangkaian petunjuk mengukur tanah dipraktekkan oleh bangsa-bangsa
Babylonia dan Mesir selama beradab-adab. Ia sendiri diakui telah membuktikan 6
dalil pokok geometri, diantaranya dalil bahwa kedua sudut alas dari suatu
segitiga adalah sama besarnya.
Dari bukti historis di atas
ternyata pendapat bahwa filsafat merupakan ayah dan ibu dari matematik adalah
keliru. Matematik tidak pernah lahir dari filsafat, melainkan keduanya
berkembang bersama-sama dengan saling memberikan persoalan-persoalan sebagai
bahan masukan dan umpan balik. Dalam lintasan sejarah kedua saudari kembar
filsafat dan matematik itu selanjutnya tumbuh bersama-sama di bawah asuhan
filsuf yang juga ahli matematik Pythagoras
(572-497 s.M)
Hubungan timbal balik dan saling
pengaruh antara filsafat dan matematik dipacu pula oleh filsuf Zeno dari Elea.
Dua perbincangan paradoks yang terkenal dari Zeno adalah:
1.
Keganjilan Dikotomi
Menurut Zeno gerak tidaklah mungkin terjadi
2.
Keganjilan Achilles
Pelari cepat Achilles tidak
mungkin mengejar seekor kura -kura yang lambat bilamana binatang itu
telah erjalan mendahului pada sesuatu jarak tertentu.
Seorang filsuf dari Yunani Kuno setelah masa hidup Zeno yang
menegaskan hubungan yang amat erat antara matematik dan filsafat ialah Plato.
Menurut Plato geometri merupakan suatu ilmu yang dengan akal murni membuktikan
proporsisi-proporsisi abstrak mengenai hal-hal abstrak seperti misalnya, garis
lurus , segitiga atau lingkaran ynag
sempurna.
PERSAMAAN DAN
PERBEDAAN FILSAFAT DENGAN MATEMATIKA
Ahli-ahli matematik dengan melalui metode aljabar, tehnik
simbolisme, dan teori himpunan telah membaut logika yang semua termasuk bidang
filsafat berkembang begitu pesat serta memperjelas pengertian-pengertian
seperti kebenaran, denotasi, konotasi, dan bentuk yang digumuli oleh para
filsuf. Selanjutnya, matematik merupakan sumber penting yang tak kering-kering
sejak zaman kuno sampai abad modern bagi pemikiran filsafati karena memberikan
pelbagai persoalan untuk direnungkan, misalnya persoalan apakah obyek matematik
(titik, bilangan) secara nyata ada
ataukah hanya fiksi dalam pikiran manusia.
Filsuf merenungkan soal-soal keabadian, kebetulan, evolusi,
genus, dan kwantitas. Sebagai padanannya ahli matematik mempelajari
ketakterhinggaan, probabilitas, kesinambungan, himpunan dan bilangan. Kesejajaran
ini sedikit banyak menunjukkan adanya persamaan dalam segi-segi tertentu antara
filsafat dan matematik.Filsafat dan matematik kedua-duanya merupakan
pengetahuan rasional. Kelanjutannya dari ciri itu ialah bahwa filsafat maupun
matematik tidak melakukan eksperimen dan tidak memerlukan peralatan
laboratorium.
Segi persamaan lainnya ialah bahwa filsafat dan matematik
bergerak pada tingkat generalitas dan abstraksi yang tinggi. Kedua bidang
pengetahuan itu membahas pelbagai ide yang sangat umum dan lazimnya melampaui
taraf kekonkritan yang satu demi satu.
Selain itu, filsafat dan matematik juga mempunyai segi-segi
perbedaan. Walaupun sama-sama merupakan pengetahuan rasional, filsafat dan
mateamtik masing-masing mempergunakan metode rasional yang berbeda. Filsafat
boleh dikatakan bebas menerapkan serangkaian metode rasioanl yang
bermacam-macam, sedang matematik hanya bekerja sengan satu metode logis, yakni
dedukasi.
Penalaahan terhadap
obyek matematik itu berlangsung dengan metode dedukatif dan kebenaran dari
hasil penelaahannya harus senantiasa dapat ditunjukkan dengan serangkaian
langkah pembuktian. Dalam filsafat proses pembuktian itu tidak mesti terjadi.
Tetapi yang pasti ialah bahwa filsafat harus berlangsung dengan alasan-alasan
yang diperoleh dari penalaran atau dikemukakan dalam perbincangan yang
rasional.
Jadi dalam filsafat tidak terlihat kepastian dan ketegasan
seperti halnya dalam matematika. Perbedaan ini menurut filsuf Alfred Cyril
Ewing dapat dikembalikan pada 3 sebab yang selengkapnya berbunyi demikian :
Pertama, tidaklah terbukti mungkin untuk menetapkan arti dari
istilah-istilah dalam cara sama yang tak bermakna ganda pada filsafat seperti
halnya dalam matematik, dengan demikian arti dari istilah-istilah itu cenderung
secara tak terasa untuk berubah dalam lintasan suatu perbincangan dan sangat
sukar untuk memastikan bahwa filsuf-filsuf yang berlainan akan mempergunakan
perkataan yang sama dalam makna yang sama. Kedua, hanyalah dalam lingkungan
matematik kita menjumpai konsep-konsep sederhana yang menjadi dasar dari
sejumlah besar penyimpulan-penyimpulan yang rumit tetapi ternyata secara ketat
bersifat pasti. Ketiga, matematik murni adalah hipotesis, yaitu tidak dapat
memberitahu kita tentang apakah yang menjadi peristiwanya dalam dunia yang
sesungguhnya, misalnya berapa banyak benda terdapat dalam suatu tempat
tertentu, melainkan hanyalah apa yang akan menjadi peristiwanya kalau begini
dan begitu salah benar, umpamanya bahwa akan terdapat 12 kursi dalam suatu kamar
kalau ada 5+7 kursi. Tetapi filsafat menuju pada corak kategorikal, yakni
memberitahu kita apakah senyatanya yang merupakan kasusnya; karena itu tidaklah
memadai dalam filsafat sebagaimana halnya sering dalam matematik untuk membuat
dedukasi-dedukasi semata-mata dari patokan pikiran atau bahasan.
Dalam bidang matematik orang dengan berpangkal pada aksioma-aksioma
yang tak diragukan atau premis-premis yang dianggap sebagai hipotesa menurunkan
kesimpulan-kesimpulan sampai yang jauh sekali. Sebaliknya filsafat tidak
berminat terhadap kesimpulan-kesimpulan yang jauh, melainkan terutama
bersangkut paut dengan analisa dan penilaian dari premis-premis semula.
PEMIKIRAN FILSAFATI
TENTANG MATEMATIKA
Bidang pengetahuan sebagai perwujudan interaksi filsafat dan
matematik yakni:
- Filsafat Matematik
- Landasan Matematik
- Adi-Matematik
- Filsafat kematematikaan
Filsafat matematik pada dasarnya adalah pemikiran reflektif
terhadap matematik. Matematik menjadi suatu pokok soal yang dipertimbangkan
secara cermat dan dengan penuh perhatian. Budi manusia yang diarahkan untuk
menelaah obyek-obyek tertentu sehingga melahirkan matematik kemudian juga
berpikir tentang matematik sehingga menumbuhkan filsafat matematik agar
memperoleh pemahaman apa dan bagaimana sesungguhnya matematik itu.
Dua pendapat yang pertama dari ahli-ahli matematik
menitikberatkan filsafat matematik sebagai usaha untuk menyusun dan menertibkan
bagian-bagian dari pengetahuan matematik yang selama ini terus berkembangbiak.
Sedang 2 definisi berikutnya dari ahli filsafat merumuskan filsafat matematik
sebagai studi tentang konsep-konsep dalam matematik dan pembenaran terhadap asa
atau pernyataan matematik.
Landasan matematik kadang-kadang dipersamakan pengertiannya
dengan filsafat matematik. Landasan matematik khususnya bersangkutpaut dengan
konsep-konsep dan asas-asas fundamental yang dipergunakan dalam matematik. Menurut
Charles Parsons bahwa penelitian landasan senantiasa bersangkutan dengan
masalah tentang pembenaran terhadap pernyataan-pernyataan dan asas-asas matematik.
Matematik menumbuhkan 3 mahzab landasan matematik yang
terkenal dengan logisisme, formalisme, dan intuitionisme. Mahzab logisisme
dipelopori oleh Arthur William Russell yang berpegang pada pendapat bahwa
matematik murni semata-mata terdiri atas dedukasi-dedukasi dengan
prinsip-prinsip logika dari prinsip-prinsip logika.
Mahzab landasan matematik formalisme dipelopori oleh David
Hilbert yang menyatakan bahwa sifat alami dari matematik ialah sebagai sistem
lambang yang formal. Matematik bersangkutpaut dengan sifat-sifat struktural
dari simbol-simbol dan proses pengelolahan terhadap lambang-lambang itu.
Mahzab landasan matematik intuitionisme yang dipelopori oleh
Luitzen Egbertus Jan Brouwer yang berpendapat bahwa matematik adalah sama
dengan bagian yang eksak dari pemikiran manusia.
Secara harfiah adi-matematik (metamathematics) memang dapat
berarti bidang pengetahuan yang berada diluar atau di atas matematik yang
menelaah matematik itu sendiri seperti halnya filsafat matematik. Selanjutnya
adi-matematik dimaksudkan sebagai sebuah teori pembuktian untuk menetapkan ada
atau tidaknya konsistensi dalam matematik dan menjawab masalah-masalah lainnya
seperti problem keputusan dan kelengkapan dalam suatu sistem formal.
Demikianlah dari uraian dimuka ternyata bahwa adi-matematik
juga tidak identik dengan filsafat matematik. Seperti halnya landasan
matematik, adi-matematik juga lebih terbatas ruang lingkupnya dari pada
filsafat matematik, yakni menelaah sifat-sifat dari sesuatu sistem formal
khususnya matematik untuk membuktikan konsistensi dan kelengkapan dari sesuatu
cabang matematik.
Mathematical philosophy (filsafat kematematikaan) dan
philosophy of mathematics (filsafat matematik memang cukup sulit untuk
dibedakan. Pembedaan dapat dilakukan dengan menafsirkan bahwa filsafat
kematematikaan sebagai filsafat berdasarkan matematik, sedang tafsiran filsafat
matematik ialah filsafat mengenai matematik. Filsafat kematematikaan sebagai
suatu filsafat berdasarkan matematik yang memakai matematik sebagai pangkal
tolak dan sumber ide untuk melakukan pemikiran filsafati. Sedangkan filsafat
matematik merupakan pemikiran filsafati tentang matematik untuk memperoleh
pemahaman mengenai segenap segi apa dan bagaimana dari matematik itu.