Sunday, February 12, 2012

penutup yang sebenarnya

Pakaian adalah kebutuhan pokok manusia selain makanan dan tempat berteduh/tempat tinggal (rumah). Manusia membutuhkan pakaian untuk melindungi dan menutup dirinya. Beberapa penelitian mengunkapkan bahwa sekitar 1 juta tahun yang lalu pakaian mulai ditemukan. Pada awalnya, manusia memanfaatkan kulit pepohonan dan kulit hewan sebagai bahan pakaian, kemudian memanfaatkan benang yang dipintal dari kapas, bulu domba serta sutera yang kemudian dijadikan kain sebagai bahan pakaian.

Inilah sedikit sejarah pakaian yang saya tangkap dari Wikipedia. Namun sayang, pergeseran fungsi pakaian semakin ironis. Entahlah mengapa saya menggunakan kata ironis untuk menggambarkan perubahan itu. Mungkin karena saya merasa prihatin dengan pakaian-pakaian yang berkembang di zaman ini. Seolah tertipunya kita dengan paradigma bahwa pakaian sangat menentukan tingkat sosial di masyarakat. Sehingga dengan semakin minimnya pakaian yang dipakai seseorang (terutama wanita) maka bisa dikatakan seseorang tersebut berada pada tingkat sosial yang tinggi. Maka tentu saja menurut saya ini ironis.

Jika sedikit menengok sejarah  Rasulullah dan para shohabiyah mengenai pakaian, ketika Surat mengenai berpakaian tertutup (berhijab) turun maka serentak para wanita-wanita beriman mencari kain-kain yang bisa dipakai untuk menutup tubuhnya termasuk menarik gorden yang ada di dijendela rumah mereka. Dan sungguh cukuplah itu sebagai penegas bahwa berpakaian yang menutup bukan hanya hakikat dari fungsi pakaian itu sendiri, tapi juga itu adalah perintah Allah yang tentu saja banyak kebaikan dibalik perintah itu.
Selain itu juga, mungkin saja kita sudah sering mendengar tentang hadist:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128)

Masya Allah, sungguh merinding membaca hadist diatas. Masihkah menganggap bahwa membuka-buka aurat, bupati (buka paha tinggi-tinggi) dan berpakaian yang sangat minim menjadi ajang untuk menunjukkan bahwa itu adalah trendi, modern dan sebagainya.

Maka menurut saya, itu malah menunjukkan bahwa kita sudah kembali pada 15 abad yang lalu saat Islam belum menyinari dunia dan mungkin bahkan berada pada 1 juta tahun yang lalu saat orang-orang belum menggunakan pakaian. 

Dan lagi-lagi tulisan ini saya tutup dengan do’a, semoga Allah senantiasa mengistiqomahkan diri ini dan kita semua dan juga membukakan hidayah bagi yang belum memahaminya untuk sama-sama memperbaiki diri...Aamiin
Wallahu’alam

2 comments:

  1. Alahmdulillah...artikelnya sangat memberikan manfaat... :D tetap Berkarya ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Termkasih,,alhamdulillah klo bermanfaat..^^
      aamiin,,insya allah akan terus berkarya

      Delete