Bismillah
Beberapa bulan yang lalu seorang adik (padahal seumuran) yang sudah dahulu menggenap menyapa lewat whatsapp
>> ka aciiit tbtb kangen nih udah lama ga nyapa..
>> apa kabar ka?
<< wuaaah kangeen juga :), alhamdulillah baiik
>> kakak sibuk apa sekarang?
<< dirumah aja
>> looh emang ga ngajar disekolah lagi?
<< kan udah resign, udah lama kali pas kk mampir ke jkt itu udah resign klo ga mah ga mungkin bisa kemana2..
>> jadi aktivitasnya dirumah aja ka?
<< iya dirumah tapi klo tiap sore ngajar privat
>> mau belajar jadi ibu rumah tangga yah kak,,hehehe
<< mungkin, tapi yang kepikiran sih birrulwalidain :)
>> siip,ssipp deh ka :)
Nah dari percakapan singkat itu, saya mungkin menjadi berpikir kenapa seseorang yang masih 'sendiri' dianggap semua aktivitasnya berkaitan dengan persiapan nya untuk menggenap. Misalnya nih,belajar masak biar bisa masakin mertua dan suami, belajar ngurus rumah biar bisa jadi ibu rumah tangga yang hebat, sekolah lagi biar bisa jadi istri dan ibu yang cerdas, dan semua aktivitas lain yang seolah-olah semuanya bermuara pada persiapan untuk menggenap.
Honestly, bagi saya pemahaman seperti ini agak 'risih', tapi bukan berarti saya menyalahkan yang mempunyai pemahaman seperti itu. Hanya saja, ada poin penting yang ingin saya utarakan. Dan poin ini adalah hasil riset dan analisis saya (asiiiik sok-sok jadi profesor yang lagi buat penelitian) terhadaap beberapa teman2, mb2, adik2 yang sudah menginjak kepala dua.
Kenapa kita tidak menyederhanakan tujuan. Kita belajar memasak, mengurus rumah, menimba ilmu dan apapun bentuk 'kebaikan' lainnya tidak usah muluk2 agar menjadi istri atau ibu yang baik. Simple saja, karena kita bahagia atas setiap perubahan, perbaikan diri kita dari hari ke hari. Atau simple nya lakukan itu untuk tujuan yang ada di depan mata bukan sesuatu yang belum tentu akan kita lalui. Misalnya kita belajar mengurus rumah ketika akan menggenap padahal orang tua kita butuh itu jauh lebih dulu, hak orang tua kita akan kemandirian kita jauh lebih besar, kewajiban-kewajiban kita pada orang tua kita jauh lebih penting saat kita sendiri.
Padahal, menggenap jelas-jelas sesuatu yang sangat misterius, rahasia dan tak bisa ditebak. Bagaimana kalau ternyata Allah takdirkan kita menggenap bukan di dunia ini? Bagaimana jika kita sibuuk sekali dengan sesuatu yang masih misterius kemudian lupa dan melewati segala sesuatu yang ada di depan kita terutama orang tua kita. Kita jauh-jauh mencari pintu syurga yang belum tentu terbuka untuk kita sedang pintu syurga yang di depan kita, yaitu orang tua kita malah terlupa. Yang ada malah kita akan menemukan penyesalan dan kekecewaan. Na'udzubillah :( Ayoook saya mengajak terutama diri sendiri untuk meluruskan niat kembali.
Karena menggenap bukan akhir tujuan kita, It's not the end.
No comments:
Post a Comment