Tiba-tiba sepagi buta otak gue berselancar, kemudian terketuk sampai hati.
Jika jumlah manusia dari nabi Adam a.s sampai sekarang ditambah dengan yang akan datang hingga kiamat nanti dihitung, mungkin sudah bertriliyun-triliyun bahkan lebih. hiks..hiks..
Dan gue 1 diantaranya. Terus masalahnya kenapa? gue mikir bagaimana caranya biar gue ga jadi buih dilautan, terbang, terlupakan.. yah singkat kata jadi manusia yang diantara sekian banyak yang layak di'lirik' sama Allah.
Parameter di lirik sama Allah beda bangeeeeet dengan di lirik sama manusia. Kalau di lirik sama manusia mah kayaknya gampang aja. Lo bisa pakek pakaian warna-warni yang mencolok, dandan semenor mungkin terus jalan deh di pasar. Bisa dipastikan semua mata tertuju pada lo..hehhe
Tapi ini bedaa!!! ini lirikan Allah, Khalik yang menciptakan langit dan bumi. Ahh tentu, ini akan jadi PeRe buat gue sepanjang hidup...
'Biarkan pena-pena ini menggambarkan keMahatakjubanNYA, agar tak hanya menjadi goresan tak bermakna'
Friday, February 26, 2016
Monday, February 22, 2016
There is nothing, except Allah
Bismillah..
Hari ini dari berbagai sudut kita seakan sedang dihimpit oleh berbagai ujian (baik ujian itu kita sadari atau tidak). Dan semua ujian tersebut meruntut pada satu titik. Ujian-ujian yang hadir, menantang kita didepan sejatinya sedang merujuk pada satu titik. Satu titik itu adalah isi nya. Sedang rupa-rupa ujiannya hanya bungkusnya, kemasannya. Dan setiap kita diuji dengan kemasan yang berbeda, namun isinya SAMA.
Beberapa video dengan kekejaman para 'penjajah' di Syiria, Palestina, Afganistan seolah memecahkan bendungan air mata kita. Allah, alangkah kecilnya bahkan tak sebanding apapun ujian yang kita rasakan hari ini dengan mereka. Namun, tak kita pungkiri, ujian kita dan mereka berbeda kemasan, tapi isinya tetap sama.
Bahwa, satu titik itu adalah ketauhidan. Kita diuji dengan aneka macam rupa, pada akhirnya hanya membuktikan kepada kita sendiri tentang ketauhidan kita pada Allah. Tentang kalimat Laillaha illahlah. There is no God , there is no power, there is no might, there is no deity and there is nothing. Except, Allah s.w.t, Allah Azza wajalla.
Benarkah dihati kita tertancap dengan dalam, bahwa tidak ada yang bisa meniadakan yang ada kecuali Allah, tidak ada yang mengadakan yang tiada kecuali Allah, tidak ada yang menguatkan yang lemah, melapangkan yang sempit, memudahkan yang sukar, melembutkan yang keras, menyembuhkan yang sakit, meringkankan yang berat dan menyatukan yang berpisah serta memisahkan yang bersatu kecuali Allah s.w.t
Jika satu persatu ujian yang pernah di lewati kembali di renungkan, maka sebenarnya semua hanya tentang membuktikan keimanan, keyakinan dan ketauhidan kita pada Allah s.w.t benar ada, kokoh menghujam dihati kita atau sebaliknya.
Maka tak kurang dari 17 kali dalam sehari kita meminta pada Allah jalan yang lurus, agar setiap ujian yang Allah berikan tidak membuat kita berbelok, berputar arah atau bertemu dalam kebuntuan. Karena hari ini kita sudah amat dekat dengan akhir zaman, fitnah bermunculan di mana-mana, kebiadaban kaum-kaum nabi terdahulu mulai berkumpul satu demi satu di negeri ini. Maka apa yang paling harus kita khawatirkan dalam hidup ini jikalau bukan ketauhidan kita yang hilang.
wallahu'alam
Hari ini dari berbagai sudut kita seakan sedang dihimpit oleh berbagai ujian (baik ujian itu kita sadari atau tidak). Dan semua ujian tersebut meruntut pada satu titik. Ujian-ujian yang hadir, menantang kita didepan sejatinya sedang merujuk pada satu titik. Satu titik itu adalah isi nya. Sedang rupa-rupa ujiannya hanya bungkusnya, kemasannya. Dan setiap kita diuji dengan kemasan yang berbeda, namun isinya SAMA.
Beberapa video dengan kekejaman para 'penjajah' di Syiria, Palestina, Afganistan seolah memecahkan bendungan air mata kita. Allah, alangkah kecilnya bahkan tak sebanding apapun ujian yang kita rasakan hari ini dengan mereka. Namun, tak kita pungkiri, ujian kita dan mereka berbeda kemasan, tapi isinya tetap sama.
Bahwa, satu titik itu adalah ketauhidan. Kita diuji dengan aneka macam rupa, pada akhirnya hanya membuktikan kepada kita sendiri tentang ketauhidan kita pada Allah. Tentang kalimat Laillaha illahlah. There is no God , there is no power, there is no might, there is no deity and there is nothing. Except, Allah s.w.t, Allah Azza wajalla.
Benarkah dihati kita tertancap dengan dalam, bahwa tidak ada yang bisa meniadakan yang ada kecuali Allah, tidak ada yang mengadakan yang tiada kecuali Allah, tidak ada yang menguatkan yang lemah, melapangkan yang sempit, memudahkan yang sukar, melembutkan yang keras, menyembuhkan yang sakit, meringkankan yang berat dan menyatukan yang berpisah serta memisahkan yang bersatu kecuali Allah s.w.t
Jika satu persatu ujian yang pernah di lewati kembali di renungkan, maka sebenarnya semua hanya tentang membuktikan keimanan, keyakinan dan ketauhidan kita pada Allah s.w.t benar ada, kokoh menghujam dihati kita atau sebaliknya.
Maka tak kurang dari 17 kali dalam sehari kita meminta pada Allah jalan yang lurus, agar setiap ujian yang Allah berikan tidak membuat kita berbelok, berputar arah atau bertemu dalam kebuntuan. Karena hari ini kita sudah amat dekat dengan akhir zaman, fitnah bermunculan di mana-mana, kebiadaban kaum-kaum nabi terdahulu mulai berkumpul satu demi satu di negeri ini. Maka apa yang paling harus kita khawatirkan dalam hidup ini jikalau bukan ketauhidan kita yang hilang.
wallahu'alam
Sunday, February 14, 2016
Monday, February 8, 2016
Bismillah
Ada dua hal yang membuat saya merasa pulih kembali saat sakit, semangat kembali saat malas dan memiliki harapan kembali saat berputus asa. Dua hal ini memang tidak melebihi pentingnya dari kewajiban saya pada Allah. Dua hal ini adalah:
1. Learning and Teaching
Learning is teaching. Teaching is learning. Keduanya selalu bersamaan berada, tepat satu paket tanpa terpisah. Disaat kita belajar sejatinya kita sedang mengajari diri kita, mengajari pikiran dan jiwa kita tentang apa yang sedang kita pelajari. Disaat kita mengajar sejatinya pun kita sedang belajar, belajar memahami agar orang lain paham, belajar mencari cara paling efektif untuk mentransfer value yang ada dan tentu belajar apa-apa yang terlewati kemudian kita temukan saat mengajar (sering sekali terjadi).
2. Travelling
Saya mulai dengan senyuman saat menuliskan kata travelling. Perjalanan selalu memberikan warna lain dari kehidupan. Perjalanan seakan memberi kesempatan kita untuk berbicara pada hati, pada pikiran kita sendiri. Perjalanan juga yang membuat mata dan telinga kita lebih banyak terpakai ketimbang mulut dan suara. Perjalanan juga yang membuat perasaan menjadi lebih sejuk, terposisi pada fitrahnya, lembut mengalir tanpa ambisius. Perjalanan juga yang mengajarkan kita perjuangan, bertahan dan terus bergerak. Oh, bak limpahan air di danau, uraian perjalanan tak habis ku eja lewat kata.
Pintaku pada Tuhan, agar aku masih terus diberikan kesempatan melakukan dua hal hebat tersebut terlebih jika Dia izinkan melakukan itu bersamanya (?) :)
Ada dua hal yang membuat saya merasa pulih kembali saat sakit, semangat kembali saat malas dan memiliki harapan kembali saat berputus asa. Dua hal ini memang tidak melebihi pentingnya dari kewajiban saya pada Allah. Dua hal ini adalah:
1. Learning and Teaching
Learning is teaching. Teaching is learning. Keduanya selalu bersamaan berada, tepat satu paket tanpa terpisah. Disaat kita belajar sejatinya kita sedang mengajari diri kita, mengajari pikiran dan jiwa kita tentang apa yang sedang kita pelajari. Disaat kita mengajar sejatinya pun kita sedang belajar, belajar memahami agar orang lain paham, belajar mencari cara paling efektif untuk mentransfer value yang ada dan tentu belajar apa-apa yang terlewati kemudian kita temukan saat mengajar (sering sekali terjadi).
2. Travelling
Saya mulai dengan senyuman saat menuliskan kata travelling. Perjalanan selalu memberikan warna lain dari kehidupan. Perjalanan seakan memberi kesempatan kita untuk berbicara pada hati, pada pikiran kita sendiri. Perjalanan juga yang membuat mata dan telinga kita lebih banyak terpakai ketimbang mulut dan suara. Perjalanan juga yang membuat perasaan menjadi lebih sejuk, terposisi pada fitrahnya, lembut mengalir tanpa ambisius. Perjalanan juga yang mengajarkan kita perjuangan, bertahan dan terus bergerak. Oh, bak limpahan air di danau, uraian perjalanan tak habis ku eja lewat kata.
Pintaku pada Tuhan, agar aku masih terus diberikan kesempatan melakukan dua hal hebat tersebut terlebih jika Dia izinkan melakukan itu bersamanya (?) :)
Subscribe to:
Comments (Atom)