Sunday, December 27, 2015

Di beberapa kesempatan memang melepaskan menjadi perkara yang lebih baik dari mempertahankan. Melepaskan membuat KEYAKINAN pada Allah bertumbuh bahwa apa yang menjadi hak kita tidak akan tertukar sedikit pun.

Friday, December 25, 2015



Jika ingin tahu bagaimana kasih sayang ibu terhadap anaknya?
Coba dengarkan apa saja do'anya, maka begitu takjubnya jika sebagian besar do'anya adalah untuk anak-anaknya bukan untuk dirinya. Sesekali beradalah didekatnya dan ikut meng-amin-kan do'anya. Bukankah itu adegan ter-ro-man-tis antara anak dan ibunya :)
#sungguh, ini hanya seujung kuku dari keseluruhan kasih sayangnya

Wednesday, December 16, 2015

Keluarga

Kenapa keluarga menjadi tempat yang paling nyaman untuk kita pulang. Karena di keluargalah kita tidak perlu berpura-pura. Di keluarga juga kita bisa tampil apa adanya. Dan di keluargalah kekurangan menjadi sesuatu lelucon yang menggelikan, kelebihan menjadi sesuatu yang bisa dibanggakan.
Maka kemudian jika kita tidak mendapatkan itu dikeluarga kita, maka kita akan mencari keluarga-keluarga baru diluar sana. Dan banyak kita temuakan orang-orang lebih nyaman pulang ke jalanan, kerumah orang-orang lain, nyaman pulang ke tempat hiburan dan lampiasan-lampiasan lainnya.

Karena satu alasan, bahwa keluarganya bukan satu-satunya tempat ia pulang yang paling nyaman.

Berbahagialah yang memiliki pemahaman bahwa:

Menerima dengan bahagia kondisi apapun di keluarga kita. Meski keluarga kita bukan keluar terbaik di dunia ini, tapi dapat dipastikan keluarga kita adalah yang terbaik buat kita. Karena Allah yang memilih, karena Allah yang punya satu-satunya hak menentukan setiap anak lahir dari orang tua yang mana, dan menentukan setiap orang tua melahirkan anak yang seperti apa. Kita sama sekali tidak diberi hak sedikitpun untuk terlibat dalam memilihnya. Yang bisa kita lakukan adalah menjadi sebaik-baik peran. Jika kita berperan sebagai anak, maka jadilah sebaik-baik anak yang taat pada orang tuanya. Jika kita menjadi kakak, jadilah kakak yang selalu bisa diandalkan. Jika kita sebagai adik, jadilah adik yang menyayangi kakaknya. Jika kita jadi orang tua, jadilah sebaik-baik orang tua yang menjadi contoh bagi anak-anaknya.

Dan di atas itu semua, keniscayaan peran yang kita lakoni adalah peran sebagai hamba Allah. Maka, menjadi sebaik-baik peran kita dikeluarga sebenarnya adalah wujud dari peran kita sebagai hamba. Menjadi sebaik-baik peran kita dikeluarga sejatinya itu adalah jalan untuk kita menjadi sebaik-baik peran sebagai Hamba.

Aku Mencintai dan Menyayangi Ibu, Bapak dan Kakakku karena Allah, karena itu perintah Allah :)

Saturday, December 12, 2015

Saya dan kita tidak bisa memilih lahir dari mana, dari keluarga seperti apa, dari keturunan yang mana dan tentu dari suku/bangsa yang bagaimana. Dan ini adalah takdir yang tidak bisa kita ubah sedikit pun. Maka menerimanya dengan baik, menyikapinya dengan bijak tentu akan membuatnya lebih baik. :)

Friday, December 11, 2015

Inilah sebab utama, mengapa saya suka sekali melakukan perjalanan, merantau, bertemu orang-orang baru, suasana baru. Sebab mereka seakan memberikan energi tambahan. Seakan mereka menguatkan kaki ini untuk terus menapak. Karena sisi lain yang bisa saya lihat dari orang-orang yang saya temui, bukan soal harta, kecantikan/ketampanan, dari keluarga 'hebat', ini soal cara berpikir, cara bertindak dan cara melihat dunia. 

Hari ini beberapa orang yang saya temui -dalam perjalanan- memberikan kabar gembira tentang pilihan dan perjuangan yang mereka lakukan. Dan bagiku itu harga yang pantas mereka dapatkan.

Ikut bahagia mendengar kabar bahagia dari mereka :)

Terinspirasi dan Menginspirasi!!

Menulis

Bismillah...

Menulislah, bukan untuk apa-apa apalagi menjadi siapa

Menulislah dengan jujur, bukan untuk dipuji apalagi untuk menghina diri sendiri

Menulislah karena ini bagian dari do'a. Setiap kita membaca kembali, maka kita sejatinya sedang mengulang-ulang do'a.

Menulislah dengan hati, maka sampai ke hati

Menulislah karena kita ingin menulis, bukan untuk apa-apa apalagi menjadi siapa

Menulislah, karena kita ingin menyejarahkan kisah kita.

Menulislah meski tidak ada seorang pun yang membaca, karena kita menulis bukan untuk apa-apa apalagi menjadi siapa.

Menulislah karena banyak sekali hal di dunia yang tidak bisa diceritakan dengan mulut kecuali oleh pena.

Menulislah meski kita bukan ahli sastra ataupun pujangga.

Menulislah karena kita bahagia. Bahagia karena kita menulis...

Tuesday, December 1, 2015

Episode lain di bawah atap rumahku

Seperti kebanyakan orang bilang, "Bahagia itu sederhana"

Iyaa, seperti hari ini dan hari-hari kemarin. Memastikan bahwa masakan untuk makan siang-malam dan tentu sarapan untuk ibu, bapak dan kakak ku ada dan tersedia. Itu sungguh kebahagiaan tersendiri bagi saya, yang merupakan satu-satunya anggota perempuan (selain ibu) di rumah ku. Meski makanannya tak selezat restauran bintang 4 atau tak semewah rumah makan sederhana sekalipun. Mereka tetap saja bahagia, menyantap dengan lahap dan penuh syukur apapun yang ada di atas meja. MasyaAllah, bahagia...bahagia...bahagiaa sekaligus bersyuuukurrr sekali bisa merasakan momen-momen seperti. Dan entah sampai kapan -tentu akupun tak tahu- kesempatan ini akan ada.

Jaga mereka selalu Ya Allah, dengan Kasih dan Sayang Mu. Kumpulkan kami kembali di SyurgaMu kelak, Aaamiiiin