Bismillah
Tersetak dengan kejadian akhir-akhir ini. Lebih tepatnya saat aku memutuskan untuk resign dari sebuah sekolah. Alasan untuk melanjutkan studi dan mengejar cita-cita, yah itu yang aku utarakan..
Waktu kemudian berganti, hari demi hari terlewati. Beberapa pertanyaan berkeliaran ditelinga. Kapan akan kesana? Gimana scholarshipnya? Targetnya tercapai ga? atau yang tidak terlalu tahu pun, seolah ikut berdesak bertanya. Aktivitas apa sekarang? sibuk apa? Masyaallah... Rasa-rasanya aku ingin bisikkan dengan lembut di telinga mereka 'Saya sekarang lebih butuh di doakan dibanding ditanya apalagi di puji' Tapi apa daya, inilah realita sosial. Pada akhirnya saya hanya sekedar menjawab, InsyaAllah lagi menyiapkan (untuk studi).
Menyiapkan? Kata yang kemudian membawa jauh pikiran hingga menyita perasaan. Apa yang sebenarnya saya siapkan dan menyiapkan apa sesungguhnya saya?
Setelah berkelana cukup jauh, aku terhenti disebuah tulisan masgun diblognya. 'Menyiapkan Kematian'. Allah, malu rasanya membaca tulisan itu. Rasarasanya aku tak tau diri sekali mengenai hidup ini. Seharusnya yang harus aku persiapkan dengan baik adalah kematian. Seharusnya yang menjadi alasan terbesarku mempersiapkan sesuatu yang lain adalah untuk mempersiapkan kematian. Harusnya yang ada dibenak dan keluar lewat lisan adalah menyiapkan kematian. Kematian yang sudah pasti akan datang, sedang impian hanya -masih- mengawan.
Sungguh berat sekali meneruskan tulisan ini... Rasa bersalah atas ketidakpahaman ini memilukan. Cita-cita yang tinggi boleh saja bergelantungan, tapi ingatan bahwa itu adalah pohon-pohon kecil tempat dimana hanya untuk berteduh. Yaah berteduh maka tentu tidak akan lama disana dan itu bukan tujuan akhir. Jadi, persiapan yang sesungguhnya dilakukan seorang muslim adalah menyiapkan kematian.
Rabb, semoga Khusnul Khotimah yang kami temui,aamiin
*pada akhirnya, persiapan-persiapan pada yang lain hanya lah beberapa dari sekian banyak persiapan untuk menuju kematian
No comments:
Post a Comment