Sunday, February 26, 2012

apa diri ini???

Tak ingin rasanya diri ini diibaratkan seperti LILIN, yang rela menerangi sekitarnya namun membiarkan dirinya terbakar dan lama-kelamaan akan habis hingga akhirnya pun tak mampu lagi menerangi sekitar. Tapi tak pantas  pula jika diri ini tersibukkan dengan dunia sendiri tapa peduli sekitar.

Saturday, February 18, 2012

Ladang itu adalah Amanah


Bismillah


Kututup malam ini dengan sedikit perenungan, muhasabah dan mengintrospeksi diri yang dhaif ini. Mengingatkan kembali tentang hakekat penciptaan diri ini, tubuh ini, jiwa ini melalui pengetahuan yang masih beugitu dangkal. 


Sejak awal Allah sudah memberikan sebuah amanah bagi tiap-tiap kita yang terlahir untuk mengabdi kepada Allah ( Q.S Adz-dzariyat :56) dan sebagai khalifah di muka bumi ini (Q.S Al-Baqarah:30). Maka kewajiban kita adalah melakukan yang terbaik dalam amanah tersebut.


Oleh itu, Amanah bukanlah soal mau atau tidak mau, bukan juga soal suka atau tidak suka, bukan pula populer atau tidak populer dan embel-embel dunia lainnya. Amanah adalah LADANG untuk kita menanam sebanyak-banyaknya sesuai pilihan kita, apakah tanaman – tanaman kebaikan yang kelak bisa dipetik buahnya atau tanaman-tanaman yang ditanam namun enggan di pelihara sehingga yang tersisa adalah buah-buah busuk dan masam atau ladang itu hanya dibiarkan saja kering kerontang dan ditumbuhi dengan ilalang, rumput bahkan benalu dan gulma yang tidak memberikan manfaat apapun.


Karena amanah juga lah yang dapat melemparkan kita ke neraka atau juga dengan amanah lah Allah memberikan izin untuk memasuki syurgaNYA.  


Apapun itu kita lah yang menentukan mau memilih yang mana. Dan hidup bukan hanya sekedar memilih, tapi meyakini pilihan tersebut, melakukannya dan mengakhirinya dengan khusnul khotimah. Itu bukanlah perkara yang mudah. Maka dalam Q.S Al-Baqarah : 286 Allah mengajarkan kita untuk bermunajat dan memohon kepada Allah :
….” Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”

Walahu’alam

Sunday, February 12, 2012

penutup yang sebenarnya

Pakaian adalah kebutuhan pokok manusia selain makanan dan tempat berteduh/tempat tinggal (rumah). Manusia membutuhkan pakaian untuk melindungi dan menutup dirinya. Beberapa penelitian mengunkapkan bahwa sekitar 1 juta tahun yang lalu pakaian mulai ditemukan. Pada awalnya, manusia memanfaatkan kulit pepohonan dan kulit hewan sebagai bahan pakaian, kemudian memanfaatkan benang yang dipintal dari kapas, bulu domba serta sutera yang kemudian dijadikan kain sebagai bahan pakaian.

Inilah sedikit sejarah pakaian yang saya tangkap dari Wikipedia. Namun sayang, pergeseran fungsi pakaian semakin ironis. Entahlah mengapa saya menggunakan kata ironis untuk menggambarkan perubahan itu. Mungkin karena saya merasa prihatin dengan pakaian-pakaian yang berkembang di zaman ini. Seolah tertipunya kita dengan paradigma bahwa pakaian sangat menentukan tingkat sosial di masyarakat. Sehingga dengan semakin minimnya pakaian yang dipakai seseorang (terutama wanita) maka bisa dikatakan seseorang tersebut berada pada tingkat sosial yang tinggi. Maka tentu saja menurut saya ini ironis.

Jika sedikit menengok sejarah  Rasulullah dan para shohabiyah mengenai pakaian, ketika Surat mengenai berpakaian tertutup (berhijab) turun maka serentak para wanita-wanita beriman mencari kain-kain yang bisa dipakai untuk menutup tubuhnya termasuk menarik gorden yang ada di dijendela rumah mereka. Dan sungguh cukuplah itu sebagai penegas bahwa berpakaian yang menutup bukan hanya hakikat dari fungsi pakaian itu sendiri, tapi juga itu adalah perintah Allah yang tentu saja banyak kebaikan dibalik perintah itu.
Selain itu juga, mungkin saja kita sudah sering mendengar tentang hadist:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128)

Masya Allah, sungguh merinding membaca hadist diatas. Masihkah menganggap bahwa membuka-buka aurat, bupati (buka paha tinggi-tinggi) dan berpakaian yang sangat minim menjadi ajang untuk menunjukkan bahwa itu adalah trendi, modern dan sebagainya.

Maka menurut saya, itu malah menunjukkan bahwa kita sudah kembali pada 15 abad yang lalu saat Islam belum menyinari dunia dan mungkin bahkan berada pada 1 juta tahun yang lalu saat orang-orang belum menggunakan pakaian. 

Dan lagi-lagi tulisan ini saya tutup dengan do’a, semoga Allah senantiasa mengistiqomahkan diri ini dan kita semua dan juga membukakan hidayah bagi yang belum memahaminya untuk sama-sama memperbaiki diri...Aamiin
Wallahu’alam

Friday, February 3, 2012

BagiKu



Sungguh tidaklah seberapa kesedihan itu bila bisa berbagi dengan yang lain..
sungguh tidaklah berat jika kesedihan itu boleh diketahui mereka..

Namun sungguh, kesediahan itu akan sangat sangat menyedihkan karena tidak ada yang boleh tahu, tidak ada yang boleh merasakannya dan bahkan tidak boleh terlihat oleh mereka..