Tuesday, July 5, 2011

Perhiasan Dunia

Sejak kecil aku tinggal bersama ibu dirumah yang sederhana tapi sangat nyaman bagiku. Ibu bekerja sebagai seorang guru SMA disalah satu sekolah islam tidak jauh dari rumahku. Saat aku masih sangat kecil, aku sering bertanya kemana ayahku.
“Ibu, aku punya ayahkan bu?”, tanyanya kepada ibu yang sedang menjahit pakaianku yang robek. Muka ibu berubah pias dan menjawab dengan gugup, “iya zai, kau punya ayah”. “Terus kemana ayah zai?”, tanyanya lagi.
Saat ini kau memang harus tahu, tidak perlu ada lagi yang harus ditutupi. “Anakku, siapa yang memiliki ibu, memiliki kau dan juga memiliki ayah, tentu Dia sangat berhak untuk mengambilnya kapan saja Dia mau”, jawab ibu kepadaku. “Maksudnya bu?”, tanyaku lagi dengan kening yang sedikit mengkerut. “Allah Yang Maha Memilikilah yang memiliki ibu, kau dan tentu ayah kau juga dan semua milik Allah maka pasti semuanya pun akan kembali pada Allah”, jawab ibu dengan hati-hati sambil melemparkan senyuman kecil.
Sejak itu, aku tak pernah lagi menanyakan kemana dan dimana ayah kepada ibu. Aku sudah sangat bahagia memiliki ibu sepertinya. Aku tak mau membuat pias wajahnya kembali muncul saat aku menanyakan keberadaan ayah. Dan aku berjanji di hati saat itu untuk menutup semua pertanyaan tentang ayah.
###
Setiap rumah yang kutemui saat pulang sekolah, sudah dihiasi bendera merah putih yang berkibar dengan gagahnya. Besok tanggal 17 Agustus akan banyak sekali perlombaan yang diadakan oleh sekolah maupun disekitar rumah. Aku sangat menunggu hari- hari esok, bukan saja karena besok akan ramai oleh perlombaan, tapi juga dua hari lagi aku akan meninggalkan usiaku yang ke-14.
Lapangan upacara sudah ramai dipenuhi oleh semua siswa-siswi dan juga guru-guru yang ada disekolah. Perlombaan persis dimulai setelah upacara 17 Agustus selesai. Siswa-siswi berhamburan di lapangan menunggu namanya dipanggil untuk mengikuti perlombaan. Di salah satu sudut lapangan, aku dan teman-temanku sudah siap dengan benang yang dililitkan di pinggang masing-masing dan ujungnya dipasang sebuah paku. Sekitar 5 meter  sudah ada botol kosong berdiri lurus didepan masing-masing. “Hitungan ke tiga dimulai ya”, teriak salah satu guru sekaligus sebagai juri perlombaan ini.
Satu.. Dua.. Tiga..!!
 Aku berlari sekuat tenaga agar bisa sampai dengan cepat dan memasukkan paku tersebut ke dalam botol. Dua menit berlalu, belum ada satu pun dari kami yang berhasil memasukkan paku tersebut ke botol. “Ayo..ayo...masuk..masuk..”, teriak teman-teman yang sedang menonton kami.
“Horeeee….!!”, teriakku dengan kencang, sambil berlari-lari membawa botol yang ada dibelakangku. “Kita sudah mendapatkan pemenang pertama, yang lain masih ada kesempatan untuk mendapat juara 2 dan 3”, ucap juri dengan penuh semangat.
Semua perlombaan telah selesai, pembagian hadiah perlombaan akan segera diumumkan. Wajah dari beberapa siswa tersenyum senang menunggu pembagian hadiah untuk pemenang. Terlepas dari mereka menang atau tidak, semua siswa sangat senang menikmati segala bentuk perlombaan yang diadakan. Aku sangat bahagia bercampur sedih, karena ini tahun terakhir aku duduk di bangku sekolah menengah tingkat pertama sekaligus tahun terakhir aku mengikuti acara 17 Agustus di sekolah menengah tingkat pertama. Sungguh aku akan sangat merindukan saat-saat ini.
“Assalamu’alaikum ibu”, ucapku dengan penuh gembira. “Wa’alaikumussalam, wah anak ibu udah pulang”, balas ibu juga dengan senyum mengembang. “Ibu aku dapat hadiah banyak sekali, ini hadiah balap karung, ini hadiah makan kerupuk, dan terakhir hadiah memasukkan paku ke botol,” sambil menunjukan hadiahnya kepada ibu. “Anak ibu hebat”, Ucap ibu dengan bangga. “Sekarang kau mandi, ibu sudah siapkan teh hangat dan bolu pisang kesukaanmu”, ucap ibu sambil memberikan handuk.
Ibu berjalan menuju kamarku, dilihatnya aku sudah tidur dengan lelapnya. Aku belum sempat membereskan buku catatanku setelah aku menulis beberapa kalimat. Ibu membacanya, “Hari ini aku dapat banyak sekali hadiah dari sekolah, itu belum terlalu spesial karena besok aku sangat menunggu hadiah dari ibuku”.
###
Embun pagi menelusup dingin disela-sela jendela kamarku. Udara yang sejuk menyelimuti ruangan kecil tempatku tidur. Terdengar syahdu lantunan kalam ilahi dari beberapa masjid disekitar rumahku. Gemericik air sawah yang turun dari lereng-lereng ikut menyempurnakan melodi indah subuh ini. Aku mengambil wudhu bersiap menunaikan sholat subuh.
Semalam aku tertidur dengan nyenyaknya, setelah seharian bermain dan mengikuti perlombaan di sekolah. Nyaris aku melupakan hari ini. Hari yang sejak satu minggu atau lebih sangat aku nanti-nantikan.
Ibu sudah sibuk di dapur menyiapkan sarapan pagi. Aku pun ikut sibuk merapikan tempat tidur dan kamarku. Sesekali kulirik ibu di dapur, dan berbasa basi menanyakan, ”ada yang bisa dibantu bu?”. Ibu hanya bilang, “tidak usah nak, kau bersih-bersih rumah saja ya”.
Pulang dari sekolah, aku dikagetkan dengan sebuah kado yang diletakkan diatas ranjang tidurku. Ini hari lahirku yang ke -15 dan ini juga yang kali ketiganya ibu memberi kado sebuah jilbab yang indah dan tak lupa ibu selalu menyelipkan didalam kado secarik kertas tulisan tangan ibuku.
-Zaitun Nurhaq-
Bidadari kecilku yang cantik,
Bahagianya kau hari ini, sebahagia ibu yang telah merawatmu 15 tahun. Jika ada bidadari di dunia ini, maka kaulah bidadari itu. Ibu berharap kaulah juga yang akan menjadi bidadari surga nanti.
-peluk dan sayang ibu selalu untukmu-
Pipiku tiba-tiba hangat oleh aliran yang keluar dari pelupuk mataku. Maafkan aku ibu yang belum bisa menjadi bidadari untukmu. Aku masih begitu nakal untuk bisa menyanding predikat sholehah yang ibu ingingkan. Aku belum bisa mengenakan pakaian takwa yang sering ibu lukisan dalam bait-bait cintamu. Terlebih aku belum bisa menjadi perhiasan teridah dihatimu. Maafkan aku ibu.
Aku keluar dari kamar dan langsung mencari ibu. “Terima kasih banyak ibu”, aku berlari memeluk ibu. “Aku sayang ibu”, ucapku sambil menangis. “Ibu juga sangat sayang kau zai”, balas ibu dengan pelukan yang hangat. “Ayo kita duduk di ruang tv, ibu sudah lama tidak bercerita-cerita denganmu zai”, ajak ibu kepadaku.
“Gimana jilbabnya, kau suka?”, tanya ibu. Senyumku semakin lebar mendengar pertanyaan ibu, “suka sekali bu, warnanya sesuai dengan warna kesukaanku”. “Alhamdulillah kalau kau suka, ibu jadi semakin senang melihatmu”, jawab ibu kembali.
“Ibu, apa ya arti dari nama zai?”, tanya zai tiba-tiba. Arti namamu itu sangat indah, Zaitun artinya dan Nurhaq adalah cahaya kebenaran. Jadi arti dari Zaitun Nurhaq adalah cahaya kebenaran
“, penjelasan ibu kepadaku.  “Kenapa ibu memberi nama zai seperti itu? Seberapa penting arti sebuah nama ibu?”, tanya zai lagi. Zai, kau  pernah mendengar orang-orang bilang,”apalah arti sebuah nama?”. “Iya bu, zai sering mendengar orang-orang menyebut hal itu”, jawabnya dengan muka yang bingung. Kalau menurut ibu gimana, benarkah kalau nama itu memang tak berarti?”, sambungnya lagi. Ibu selalu menjawab semua pertanyaanmu bukan dengan kata ‘iya’ atau ‘tidak’ karena ibu ingin kau sendirilah yang akan menemukan jawabannya. Sekarang ibu akan menganalogikannya dan ibu yakin kau anak yang cerdas untuk bisa mengerti yang ibu maksud.
“Ibu akan memasak sesuatu untuk kau, tapi kau tidak tahu bahan apa yang ibu masak. Ibu masak dengan resep yang paling terkenal dan bumbu-bumbu yang paling lezat yang belum pernah kau rasakan. Ibu bentuk dengan sedemikian rupa hingga bahan utamanya menjadi tidak mirip dengan aslinya sebelum dimasak. Lalu setelah semuanya selesai ibu hiasi dengan aneka sayur yang segar dan indah dilihat mata. Setelah semuanya selesai, ibu akan sajikan dimeja makan. “Kau bisa tebak apa yang pertama kali yang akan kau tanyakan?”, tanya ibu padaku tiba-tiba. Sedikit memutar-mutar kepala, aku menjawab dengan asal, “hmmm…ini masakan apa bu?”.Tepat sekali anakku, semua orang akan menanyakan hal yang sama jika melihat sesuatu yang baru.
Ini masakan asli Indonesia, “rica-rica kecap”. Kau akan langsung mencobanya, terlepas dari kau suka atau tidak suka, dihabiskan atau sekedar mencicip, yang jelas kau akan sangat penasaran mencicipinya. Tapi akan berbeda halnya jika tadi ibu namakan masakan itu dengan “Ikan Lele rica-rica kecap”. Jangankan menyentuhnya, melihatnya kembali saja kau akan bepikir dua kali. Karena ibu tahu kau paling benci dengan ikan lele, semenjak kejadian waktu itu.”
Kau sudah tahu sekarang, betapa penting dan berartinya sebuah nama zai. Analogi yang ibu jelaskan tadi hanya menunjukkan salah satu dari banyaknya penjelasan mengapa nama itu begitu penting. “Iya bu, zai mengerti jika nama bukanlah sesuatu yang tak bermakna dan bahkan bisa jadi ia mengubah pandangan menjadi berbeda”, jawab ku dengan yakin. “Kau memang anak yang cerdas zai”, ucap ibu sambil tersenyum bangga padaku.
Tapi kau jangan lupa bahwa setelah nama ada hal yang lebih penting lagi. Sambil menarik tangan ibu, “Apa itu bu?”. “Coba kau pikirkan kembali analogi memasak yang ibu ceritakan tadi, tentu kau akan bisa menjawabnya”, jawab ibu sambil membelai rambutku.
 “Zai masuklah ke kamar, belajarlah atau jika kau memang sudah lelah tidurlah”, pinta ibu kepadaku tanpa menunggu jawaban dariku.
 Aku berangkat dari tempat duduk dengan penuh pertanyaan.
###
Hari lahir ibu persis tanggal pertama dibulan setelah hari lahir ku. Aku ingin memberikan kado spesial untuk ibu. Tapi, aku belum juga menemukan kado yang spesial untuk ibu. Aku belum tahu kira-kira sesuatu apa yang selama ini ibu inginkan. Padahal tinggal 3 hari lagi bulan Agustus akan berakhir.
Malam telah larut, aku harus segera tidur. Besok aku harus pergi ke sekolah pagi-pagi sekali karena kelasku mendapat giliran menjadi petugas upacara. Sebelum tidur kusempatkan untuk berwudhu. Aku ingat sekali pesan ibu untuk selalu menjaga kesucian saat tidur karena selama tidur kita tidak tahu apa yang terjadi.
“Dari tepian sungai dekat rumah, aku duduk sendiri menyaksikan lukisan alam yang sempurna indah. Tiba-tiba dari belakang suara seseorang memanggilku. “Zaitun…”, panggilnya tiba-tiba. Aku segera menolehkan kepala dan mencari siapa yang memanggilku. Kudapati seorang lelaki yang gagah sedang tersenyum indah kepadaku. Aku mencoba memutar kembali memoriku mencari file wajah yang ada didepanku sekarang. Masih mengambang ingatanku, tiba-tiba lelaki itu mengeluarkan suara yang bagi telingaku tak terlalu asing. Tak ada rasa takut dihatiku, bahkan aku merasakan kerinduaan yang begitu besar tertahan selama ini. Ia mendekati dan membelai rambutku lalu berbicara, “ Zaitun, perhiasan yang paling indah didunia ini bagi orang tua dan sekaligus membuat orang tuamu bahagia didunia maupun diakhirat adalah melihat anaknya menjadi anak yang sholehah. Kau tahu anak yang sholehah itu seperti apa?Anak yang sholehah itu tidak lain ialah anak yang taat kepada Penciptanya. Ia dapat menjaga Aurat dan Kehormataannya. Ia mampu meneladani Rasulullah dalam kehidupannya. Tentu terakhir adalah ia bisa berbakti dan mendapatkan ridho dari orang tuanya, Ucap laki-laki itu dengan muka yang sejak tadi tersenyum indah ”.
“Zai bangun…,” panggil ibu sambil menepuk-nepuk tanganku. Aku terkejut mendengar suara ibu membuyarkan mimpi anehku. “Ternyata itu hanya mimpi ya…”, ucapnya dengan menyisakan kebingungan. “Ayo segera bangun dan ambil wudhu dari tadi adzan subuh sudah berkumandang”, ucap ibu sambil meninggalkan kamarku. “Aku masih penasaran dengan laki-laki yang semalam dimimpiku. Aku sepertinya pernah melihat wajah itu, tapi…”, aku berbisik dihati.
Setelah sholat subuh kutunaikan, aku mencari album foto semasa kecilku. Kubuka loker kecil di meja belajarku. Kubalik lembar demi lembar foto masa kecilku. Aku dikejutkan dengan wajah yang persis sama dengan laki-laki yang semalam bertemu denganku didalam mimpi. Benar sekali, aku tak asing dengan wajah ini. Laki-laki semalam yang mendatangi mimpiku. Laki-laki yang tersenyum dengan gagahnya. Laki-laki yang setiap katanya menyimpan arti yang dalam. Laki-laki yang selama ini aku rindukan. Laki-laki yang membuatku ada didunia. Tak salah lagi, dia adalah Ayahku.
Tubuhku lemas diatas sajadah yang tadi belum kulipat setelah sholat. Samudera kecil dimataku tumpah tak tertahankan. Kupeluk album foto dengan eratnya. Allahku, setelah 14 tahun aku tidak pernah bertemu ayahku. Tidak pernah mendengar suaranya yang begitu gagah. Tidak pernah merasakan belaian lembut penuh kasih sayang dari seorang ayah. Malam tadi aku merasakan semuanya, meskipun itu hanya sebuah mimpi. Terima kasih Ya Allah untuk bunga tidur paling indah yang pernah kurasakan. Aku duduk sejenak sambil merenungkan semua kejadian semalam yang sepertinya melesat dengan cepat.
Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 05.40, segera aku bereskan kamar tidurku dan  mengambil handuk bersiap-siap untuk mandi. Dibenakku masih terus terbayang kejadian dalam mimpi itu. Kata-kata dari ayah terus berputar dipikiranku. Aku harus bisa menjadi anak yang ayah dan ibu impikan. Tidak ada waktu lagi menunda-nunda kebaikan.
Besok, tepat di hari lahir ibuku aku akan memberikan kado spesial untuknya. Aku akan mengakhiri sekaligus memulai babak kehidupan yang berbeda. “Permudah hamba Rabb untuk niat yang baik ini”, ucapku dengan tegas dihati. “Bismillah…”
###
 Tak biasanya aku bangun sedini ini, ku tunaikan sholat tahajud melepaskan semua kegelisahan, keraguan dan kecemasan yang ada dihati ini. Ku bermunajat kepada Allah mencerita semua yang kurasakan.
Aku bersiap-siap berangkat sekolah. Satu hal yang berbeda hari ini, aku menambahkan atribut sekolahku dengan sebuah kain penutup kepala, ini hari pertamaku memakai  jilbab. Ku segera mendekati meja makan yang sejak tadi ibu menungguku.
“Subhanallah anakku, hari ini kau cantik sekali”, ucap ibu dengan wajah yang begitu bahagia. “Selamat hari lahir ibu, ini adalah kado spesial untuk ibu”, pelukku langsung menghambur kebahu ibu. “Bahagia sekali ibu hari ini,” ucap ibu lirih dengan air mata yang menetes. “Kau memang benar-benar bidadari ibu yang paling cantik. Ibu bersyukur kepada Allah, karena Dia menitipkan kau kepada ibu”, peluk ibu sekali lagi. Senandung “The  Fikr, Wanita Sholehah” sepertinya menjadi backsound episode hari ini.
Perhiasaan yang paling indah bagi seorang abdi Allah
Itulah ia wanita sholeha ia menghasi dunia.
            aurat ditutup demi kehormataan kitab alquran
            didaulatkan suami mereka diataatinya walau perjuangan dirumah saja.
            karena iman dan juga islam telah menjadi keyakinan
            jiwa raga mampu dikorbankan harta kemewahan dilaburkan
didalam kehidupan ia menampakkan kemuliaan
bagai sekuntum mawar yg tegar ditengah gelombang kehidupan.

Sebelum berangkat sekolah, Ibu mengajakku berbicara. “Kau telah mendapatkan jawabannya anakku. Kau masih ingat analogi ibu mengenai “memasak”. Ada hal yang lebih penting dari sebuah nama. Kau menjawabnya dengan tindakan yang benar. Hal yang penting itu adalah “penampilan”, karena penampilan cerminan didalamnya. Meski sekarang orang-orang telah menyalahgunakan penampilan. Tapi ibu yakin, setelah kau memperbaiki penampilan maka kau juga akan berusaha memperbaiki isinya agar sesuai. “Jagalah jilbabmu ini dengan menjaga akhlakmu, nak”, kalimat petuah terakhir dari ibu pagi ini sebelum aku memulai aktivitas hari ini dan seterusnya.

###


-Astrid Anindiya -
Jakarta, 25 Juni 2011
Cerpen Temu Mahasiswa Muslimah MUA UNJ

No comments:

Post a Comment