Thursday, November 25, 2010

sendirii, menyepii

“Sendiri menyepi..Tenggelam dalam renungan…
Ada apa aku seakan kujauh dari ketenangan
perlahan kucari, mengapa diriku hampa…
mungkin ada salah, mungkin ku tersesat,
mungkin dan mungkin lagi”…(edcoustic)

Iri sekali dengan mereka. Mereka yang sekarang sedang berjalan bahkan berlari menjemput HidayahNya, aku disini malah duduk terkaku kebingungan. Mereka bergerak mencari keMaha LuarbiasaanNya, disini aku malah terdiam gelisah. Mereka menangis tersedu menyesali kealpaan disepertiga malam yang hening, aku malah asyik tidur menikmati mimpi-mimpi indah. Mereka menjaga diri dengan dzikir disepanjang hari, aku malah tertawa lepas tanpa beban.

Inikah yang dinamakan kefuturan?

Saat semuanya terasa hambar tanpa tujuan, seolah-olah yang dilakukan sudah benar, tanpa merefleksi kembali setiap hela nafas yang terlewati.
Saat dibebaskan sedikit saja dari kemelut dunia, mulailah terlupa denganNYA, berjingkrak kesenangan hingga lalai bersyukur padaNYA.
Saat Allah hadapkan sedikit saja masalah, mulailah mengutuk DIA, mengatakan bahwa Allah tak adil, Allah tak sayang, dan segala keluh kesah yang keluar.

Inikah tanda kefuturan itu?

Sedih sekali rasanya, saat diri bertambah umur namun aktivitas ruhiyah tak ada kenaikan bahkan mudur perlahan. Perih menyaksikan saat diri tak semakin bijak memilih jalan hidup. Tak semakin arif menyikapi masalah. Mencari ketenangan diluar, bukan mengadu disujud-sujud malam, menengadahkan tangan memohon dengan penyesalan.
Benarkah kefuturan itu sekarang mengendap? Ada keyakinan tapi tak banyak berbuat, ada keinginan tapi sedikit sekali melakukan.

“sampai kapan ku begini…
resah tak bertepi..
kembalikan aku pada cahayaMu yang sempat menyala”…

Ihdinasyirotol mustaqin
Wallahu’alam

No comments:

Post a Comment