Wednesday, August 11, 2010

filosofi Euclid ^^

Assalmu’alaikm..
Bismillah..
               Pertamakali berkenalan dengan MK ini,sebut saja namanya Geometri Euclid.  Subhanallah ada rasa dek2an yang mengalir didadaku. Ini dikarenakan ada pembukaan yang begitu menarik bagi saya, yaitu pertanyaan yang dilontarkan dosen mengenai perbedaan definisi,postulat dan dalil. Saya merasa heran dan bertanya2 bukan mengenai perbedaan ketiga kata itu, tapi ‘apa maksud dari dosen itu menanyakan ketiga kata tersebut’. Begitu pentingkah untuk kelanjutan MK ini??hmm..
Beberapa minggu telah berlalu, sungguh masih ada sisa keherananku yang belum terjawab. Hal itu membuatku terus berpikir mencari jawaban itu sendiri.
Yaaak.. I got the point,
               Ada sesuatu yang begitu menarik hingga menyedot perhatianku untuk terus memikirkannya. Setiap sang dosen memberikan soal, ada hal yang selalu harus kami lakukan. Contohnya, diketahui segitiga ABC ,AB @ AC. Bila kita mengatakan segitiga ini adalah segitiga sama kaki, maka dosen itu langsung berkata “apa alasannya?”. Tentu yang harus kami lakukan adalah bukan menjawab ‘sudah takdirnya’ (ini jawaban yang sering saya lontarkan saat menjawab pertanyaan dari  ibu tuti  hehe,,maaf ya bu ^^),yang harus saya lakukan adalah menjawabannya melalui definisi,dalil atau postulat yang “telah ada”. Okey, jawaban kami jelas lawan definisi: segitiga sama kaki adalah segitiga yang mempunyai 2 sisi yang kongruen.
Inilah mengapa dosen itu bertanya mengenai perbedaan definisi,postulat dan dalil. Tentu, yang pertama adalah  ketika menyatakan sebuah pernyataan, kita dituntut untuk tidak memberikan alasan yang sembarang tanpa bukti yang tepat  apalagi tidak ada alasan. Yang kedua, Perlu sebuah penjelasan yang kadang tidak cukup satu pernyataan dan satu alasan, perlu tahapan-tahapan yang mesti dilewati. Hingga sampai pada jawaban yang dituju.
Menurut saya, inilah analogi yang bisa diambil untuk menjalani kehidupan yang nyata. Analogi yang pertama, ada hal-hal yang lama kelamaan  menjadi  sebuah  kebiasaan. Kebiasaan yang sering tanpa disadari menjadi  makanan sehari-hari (emang bisa dimakan). Kebiasaan yang awalnya hanya biasa saja namun menjadi sangat penting ketika salah dalam menempatkannya.  Yuupss,, kebiasaan “ASBUN” (Asal Bunyi), naah inilah yang sebenarnya harus dikurangi dan kalau perlu dihilangkan dalam perilaku.
Banyak kejadian buruk seperti pertengkaran dikarenakan kebiasaan Asbun keluar pada saat yang tidak tepat. Banyak darah keluar hanya karena bicara yang tidak benar. Banyak silaturahim terputus hanya karena omongan yang tidak ada alasan yang jelas.
Inilah saatnya memperbaiki perkataan dan perilaku yang kadang tak disadari keluar begitu saja tanpa ada manfaat. Astaqfirullah. Maaf ya teman-teman..
Analogi yang kedua, ada banyak tujuan ingin dicapai. Namun ada banyak hal harus dilewati untuk mencapai itu.  Perlu sebuah tahapan-tahapan baik yang pendek atau bahkan begitu panjang.  Tidak ada cara yang instan untuk mencapai itu.
Wallahu’alam.
Wasslamu’alaikm

No comments:

Post a Comment