Rasa-rasanya aku tak punya cukup waktu untuk berlama-lama bersedih atau sekedar mengeluhkan kehidupan. Padahal bisa saja aku melakukannya. Allah yang dengan kemurahanNya selalu menggantikan gulita dengan berkas cahaya, mendung menjadi hujan penuh berkah, atau yang paling sederhana mengubah lipatan kusam wajah menjadi lebar penuh senyuman.
Rasa syukur yang tinggi menutupi luka-luka yang menganga, bahkan luka itu menjadi nikmat tersendiri untuk juga disyukuri. Itulah mengapa aku tak punya kesempatan untuk 'down' berlama-lama. Ada rencana Allah yang banyak di depan untuk aku bersiap menyelesaikannya. Jalan yang lebih menantang di depan tak menyempatkan ku untuk menoleh berlama-lama, cukup hanya sesekali, sekedar bercermin agar tak kembali mengulang.
Jatuh? tak perlu ditakuti, aku hanya cukup berhati-hati. Kembali jatuh? tak juga tanda kegagalan, hanya soal waktu kita akan berdiri gagah meski dengan beret-beret luka. Bukan kah itu lebih heroic :D
Willing to be better than yesterday, simply. Sometimes, Dreams, Hopes, and FATE are not alike. However, Allah always give me what i need and what i deserve get. Ultimately, I just prepare well for them in best condition :)
'Biarkan pena-pena ini menggambarkan keMahatakjubanNYA, agar tak hanya menjadi goresan tak bermakna'
Monday, October 5, 2015
Saturday, October 3, 2015
pembuktian
Bismillah
Kita percaya Allah Maha Besar, Allah Maha Berkehendak. Tapi buah kepercayaan itu sering kali tak berwujud keyakinan. Dahan-dahannya pun tak menumbuhkan ketawakalan. Kenapa?
Saya pun sering sekali bertanya-tanya tentang ini. Hingga akhirnya (mungkin bukan akhir) saya menyimpulkan -maaf jika kesimpulan ini hanya sebatas nalar saya yang dangkal- bahwa 'kita tidak mengizinkan diri kita untuk membuktikan KeMahabesaran dan KeMahaberkehendak Nya Allah'.
emmm, ko bisa kita tidak mengizinkan? siapa kita kemudian bisa mengizinkan itu? apa yang harus diizinkan?
Saya mau coba uraikan lewat beberapa kejadian. Mungkin diantara kita, Allah lebihkan rizki hingga kita bisa sekolah di sekolah termahal sekali pun, fasilitas yang mewah, dan kurikulum yang menakjubkan. Terus dengan mudahnya kita melenggang masuk dengan 'hanya' mendaftar, urus surat sana sini dan laaaa langsung terdaftar menjadi salah satu siswa/mahasiswa disana. Ada yang salah? Ga ada kok. Terus apa hubungannya? Iya tentu ada, kenapa kita tidak mengizinkan Allah berperan 'lebih'. Keluar dari zona nyaman dan aman. Kenapa tidak kemudian kita mengambil sekolah yang bukan hanya mewah tapi juga memiliki kompetisi tinggi, untuk apa? bukan untuk sok-sok an, atau malah merepotkan. Tapi, ini murni karena kita ingin mem-push kemampuan yang kita miliki lalu disitu lah poin pembuktian bahwa Allah adalah satu-satunya tempat kita berharap, bukan karena kekayaan kita, kekuasaan orang tua kita, atau yang lainnya. Kita ingin menumbuhkan buah keyakinan dan dahan ketawakalan lewat itu. Kalau toh kita tetap ga masuk, tidak mengapa namun kemudian kita bisa belajar bahwa apapun yang terjadi bukan disebabkan yang lain, tapi karena Allah Yang Maha Besar.
In another case, mungkin diantara kita mudah sekali untuk mendapat pekerjaan, karena Allah lebihkan 'link', pertemanan, kerabat dari keluarga kita atau apalah namanya. Kemudian dengan entengnya kita berlenggok ria masuk dan terdaftar menjadi bagian perusahaan/instansi tersebut. Ada yang salah dari itu? Ga ada kok. Sayangnya, kita tidak memberikan kesempatan Allah untuk berperan 'lebih'. Keluar dari zona aman dan nyaman. Kenapa kita tidak kemudian berlelah mencari loker, buka website atau media lainnya kemudian menemukan tempat yang pas, lebih worth , dan sesuai passion. Bukan karena sok hebat atau sok ga butuh orang. Tapi asli karena kita ingin mem-push ikhtiar kita lalu tepat disitulah titik dimana kita membuktikan bahwa Allah adalah satu-satunya tempat bergantung, bukan karena relasi, link atau kehebatan keluarga kita. Kita ingin menumbuhkan buah keyakinan dan dahan ketawakalan lewat itu. Kalau toh ternyata belum dapat, tidak mengapa namun kemudian kita bisa mengambil hikmah besar dari itu semua bahwa apapun yang terjadi bukan disebabkan yang lain, tapi karena Allah Yang Maha Berkehendak.
"Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu" (Terjemah Q.S Ali-Imran :26)
Tulisan kecil ini untuk mengingatkan diri ini akan kekuasaan Allah, melebihi apapun. Dalam kondisi penuh penantian dan pembuktian atas rencana-rencana ke depan.
Kita percaya Allah Maha Besar, Allah Maha Berkehendak. Tapi buah kepercayaan itu sering kali tak berwujud keyakinan. Dahan-dahannya pun tak menumbuhkan ketawakalan. Kenapa?
Saya pun sering sekali bertanya-tanya tentang ini. Hingga akhirnya (mungkin bukan akhir) saya menyimpulkan -maaf jika kesimpulan ini hanya sebatas nalar saya yang dangkal- bahwa 'kita tidak mengizinkan diri kita untuk membuktikan KeMahabesaran dan KeMahaberkehendak Nya Allah'.
emmm, ko bisa kita tidak mengizinkan? siapa kita kemudian bisa mengizinkan itu? apa yang harus diizinkan?
Saya mau coba uraikan lewat beberapa kejadian. Mungkin diantara kita, Allah lebihkan rizki hingga kita bisa sekolah di sekolah termahal sekali pun, fasilitas yang mewah, dan kurikulum yang menakjubkan. Terus dengan mudahnya kita melenggang masuk dengan 'hanya' mendaftar, urus surat sana sini dan laaaa langsung terdaftar menjadi salah satu siswa/mahasiswa disana. Ada yang salah? Ga ada kok. Terus apa hubungannya? Iya tentu ada, kenapa kita tidak mengizinkan Allah berperan 'lebih'. Keluar dari zona nyaman dan aman. Kenapa tidak kemudian kita mengambil sekolah yang bukan hanya mewah tapi juga memiliki kompetisi tinggi, untuk apa? bukan untuk sok-sok an, atau malah merepotkan. Tapi, ini murni karena kita ingin mem-push kemampuan yang kita miliki lalu disitu lah poin pembuktian bahwa Allah adalah satu-satunya tempat kita berharap, bukan karena kekayaan kita, kekuasaan orang tua kita, atau yang lainnya. Kita ingin menumbuhkan buah keyakinan dan dahan ketawakalan lewat itu. Kalau toh kita tetap ga masuk, tidak mengapa namun kemudian kita bisa belajar bahwa apapun yang terjadi bukan disebabkan yang lain, tapi karena Allah Yang Maha Besar.
In another case, mungkin diantara kita mudah sekali untuk mendapat pekerjaan, karena Allah lebihkan 'link', pertemanan, kerabat dari keluarga kita atau apalah namanya. Kemudian dengan entengnya kita berlenggok ria masuk dan terdaftar menjadi bagian perusahaan/instansi tersebut. Ada yang salah dari itu? Ga ada kok. Sayangnya, kita tidak memberikan kesempatan Allah untuk berperan 'lebih'. Keluar dari zona aman dan nyaman. Kenapa kita tidak kemudian berlelah mencari loker, buka website atau media lainnya kemudian menemukan tempat yang pas, lebih worth , dan sesuai passion. Bukan karena sok hebat atau sok ga butuh orang. Tapi asli karena kita ingin mem-push ikhtiar kita lalu tepat disitulah titik dimana kita membuktikan bahwa Allah adalah satu-satunya tempat bergantung, bukan karena relasi, link atau kehebatan keluarga kita. Kita ingin menumbuhkan buah keyakinan dan dahan ketawakalan lewat itu. Kalau toh ternyata belum dapat, tidak mengapa namun kemudian kita bisa mengambil hikmah besar dari itu semua bahwa apapun yang terjadi bukan disebabkan yang lain, tapi karena Allah Yang Maha Berkehendak.
"Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu" (Terjemah Q.S Ali-Imran :26)
Tulisan kecil ini untuk mengingatkan diri ini akan kekuasaan Allah, melebihi apapun. Dalam kondisi penuh penantian dan pembuktian atas rencana-rencana ke depan.
Subscribe to:
Comments (Atom)