'Biarkan pena-pena ini menggambarkan keMahatakjubanNYA, agar tak hanya menjadi goresan tak bermakna'
Sunday, August 31, 2014
diawal saat menjadi bagian Al-Azhar
Kemenangan sebenarnya
Hari itu, kami bersiap2 menuju sekolah dr rumah masing2 dgn perasaan berbeda. Beberapa kali sering telat masuk sekolah, namun kali ini kami bertekad masuk tepat waktu bahkan jauh sebelum jarum jam menunjukkan pukul 06.30. Iya lagi2 karena hari itu memang berbeda. Kulangkah kan kaki menuju lobi kemudian segera kuletakkan jempol tanganku di alat "pendeteksi kehadiran". Kesana kemari mata ku mencari beberapa sosok yg kuharap mereka telah hadir lebih dahulu. Dan ternyata benar, papan dan tas yg terlihat begitu berat berada tepat di bahu mereka seakan menyiratkan kalo mereka memang telah siap.
Dikantor pun terlihat sudah tergeletak tas yg kukenal didpn meja saya (dan mejanya juga). Ku segera menyapa guru yg sudah hadir lebih dahulu, lalu kutanyakan sosok yg mempunyai tas tersebut. "Miss tria mana yah?",tanyaku pada beberapa guru. "Mungkin ada dibawah", jawab salah satu guru. Karena tak kunjung terlihat, kuputuskan utk menunaikan dhuha sambil menunggu kehadirannya.
Selang beberapa Lama, Miss Tria muncul dan diikuti oleh beberapa siswa. Suasana kantor pun mendadak ramai penuh dengan ucapan semangat dan do'a. Kembali hatiku bergumam dengan kalimat yg semalam sempat kukirim kan di group bbm "team matematika", 'optimis menjulang do'a melangit ikhtiar membumi'. Semoga kalimat ini mampu terinternalisasikan dalam jiwa mereka dan juga tentu kami sebagai gurunya.
Setelah beberapa saat siswa-siswi bersalaman dengan guru, kami segera bertolak menuju tkp.
Selama perjalanan menuju IKIP ogan, anak2 menyelipkan candaan yg membuat geli. Beberapa kali Miss tria kembali mengingatkan sistematika lccm grup dan perorangan.
Sesampainya disana, segera kami meregistrasi ulang sekaligus mendapatkan 'nametag' pada setiap masing2 lomba. Keadaan diruangan masih sangat sepi, hanya segelintir orang yg telah duduk rapi dikursi yg telah disediakan. Momen tersebut membuat kenarsisan kami keluar (terutama Miss Tria karena ini ide beliau). Miss Tria kemudian memanggil salah satu panitia utk memoto kami dibawah spanduk lomba tersebut. Semua siswa pun segera menyambutnya dgn ceria, namun hanya seorang siswa yg enggan bergabung. Siapa dia? Iya benar dia adalah sang master kita fahmi. Namun, karena paksaan dari saya dan Miss tria akhirnya fahmi mau diajak berfoto meski dengan berat. Saat kedua kalinya ingin berfoto, fahmi meminta dirinya ditempatkan dipaling ujung. It's ok, yg penting mau diajak foto. Oh no, saat detik2 sang fotografer memencet "capture", fahmi segera berlari menjauh. Ini ni kalau anak udah kelewat pintar,hehe
Sudah 20 menit kami menunggu, namun sepertinya acara juga belum ada tanda2 akan dimulai. Tiba2 dalam kesibukan kami dengan dunia masing2, seorang putri cantik dhila memecahkan suasana. "Miss, miss sholat dhuha yuuk", ajaknya pada saya dan Miss Tria. "Oh ayo nak belum mulai juga acaranya", jawab Miss Tria segera. "yuuk silahkan, Miss udah dikantor". Jawabku juga.
Ya Rabb, detik itu juga naluri ku membatin, "ini lah nak yg sebenar dan sejatinya kemenangan". Andai ada alat penglihat hati, maka bisa dilihat begitu lebarnya hati Miss tersenyum. :)
Subscribe to:
Comments (Atom)